“Program ini membawa manfaat langsung. Kami diajak membangun kebiasaan sederhana yang dampaknya besar untuk mengurangi risiko bencana. Sekarang warga lebih paham apa yang harus dilakukan jika ada percikan api atau saat air mulai sulit didapat,” ungkap Hanah dengan semangat.
Prioritas pada Kawasan Padat
Kawasan Kaluku Bodoa dipilih bukan tanpa alasan. Kepadatan bangunan yang tinggi membuat akses mobil pemadam kebakaran atau bantuan darurat sering kali terhambat jika terjadi musibah. Karena itu, langkah mitigasi dari dalam—yakni dari warga sendiri—menjadi benteng pertahanan paling depan.
Edukasi hemat air pun dianggap sangat krusial agar cadangan yang ada bisa bertahan lebih lama saat kemarau panjang memuncak.
Pihak PLN UIP Sulawesi berkomitmen untuk tidak berhenti di titik ini saja. Mereka menjanjikan program TJSL yang berkelanjutan untuk mendampingi warga. Ke depan, penguatan kapasitas kelompok Kaltana akan terus dipantau agar kesiapsiagaan warga tidak hanya bersifat musiman.
Kolaborasi antarpihak, mulai dari pemerintah kota hingga masyarakat sipil, akan menjadi kunci utama dalam menjaga keberhasilan program ini di masa depan.
PLN kini tengah mematangkan rencana untuk mereplikasi pola pendampingan serupa ke titik-titik lain yang memiliki kerentanan serupa di wilayah Sulawesi. Bagi warga Kaluku Bodoa, pekerjaan rumah berikutnya adalah menjaga konsistensi dari apa yang sudah dimulai. Mereka sadar, kesiapan menghadapi bencana bukan tugas satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama setiap penghuni yang tinggal di sana.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.