Gunung Lawu kini tertutup rapat bagi para pendaki. Perhutani resmi menutup seluruh jalur pendakian via Cemoro Sewu setelah api mengamuk melahap kawasan hutan sejak Senin, 14 September 2026. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan. Nyawa pendaki dipertaruhkan di tengah kepulan asap yang belum juga reda sepenuhnya.
Asper BKPH Lawu Selatan, Mulyadi, menegaskan bahwa tidak ada toleransi bagi siapa pun yang mencoba naik ke puncak saat ini. Penutupan berlaku hingga waktu yang belum bisa ditentukan. Fokus utama tim di lapangan adalah pemadaman total dan memastikan tidak ada lagi titik api yang bersembunyi di balik semak kering.
Titik api pertama kali muncul di petak 50+A RPH Bedagung, wilayah Panekan, Magetan. Dalam hitungan jam, api menari-nari melalap vegetasi kering. Sekitar 9 hektare hutan di lereng Magetan hangus terbakar. Meski pada Rabu pagi, 16 September, pukul 09.12 WIB api di sisi Magetan dinyatakan padam, ancaman justru berpindah ke wilayah Ngawi.
Pertaruhan di Perbatasan Ngawi
Kondisi di lapangan masih sangat mencekam. Angin kencang yang bertiup di ketinggian membuat api dengan mudah melompat dari satu pohon ke pohon lain. Kini, api telah merambat masuk ke kawasan hutan di Kabupaten Ngawi, tepatnya di Petak 41 dan Petak 42D. Perhutani tidak mau kecolongan lagi.
Tim gabungan dari Perhutani, BPBD, TNI, Polri, hingga Masyarakat Peduli Api bergegas menuju lokasi. Mereka bekerja keras di medan yang terjal dan sulit dijangkau. Salah satu strategi utama yang diterapkan adalah pembuatan ilaran, atau sekat bakar, sepanjang 1,5 kilometer. Ilaran ini membentang di jalur perbatasan, memisahkan wilayah yang terbakar dengan area yang masih aman.
Pekerjaan fisik ini dilakukan mulai dari Petak 51A dengan 56A-2 hingga ke Petak 51A dengan 56A-1. Titik jalur dari Watu Gede hingga Racekangin dijaga ketat agar api dari arah Ngawi tidak kembali menyeberang masuk ke hutan wilayah Magetan. Para petugas bertaruh tenaga di bawah terik matahari, menyekat jalur agar laju si jago merah bisa terhenti.
Pantauan Ketat di Lereng Lawu
Meskipun api di sisi Magetan sudah tidak terlihat lagi, bukan berarti petugas bisa bersantai. Penyisiran secara berkala menjadi rutinitas wajib. Mereka mencari bara-bara yang mungkin tertutup tanah atau kayu busuk, yang sewaktu-waktu bisa memicu kebakaran susulan jika tersapu angin kencang.
Sebuah posko siaga kini berdiri kokoh di Desa Ngliliran, Kecamatan Panekan. Posko ini menjadi pusat komando sekaligus mata bagi tim gabungan untuk mengamati pergerakan cuaca dan titik api. Mengingat kondisi iklim yang sangat ekstrem dan kering, setiap laporan sekecil apa pun direspon dengan sigap oleh personel di posko.
Seluruh calon pendaki diminta membatalkan rencana perjalanan mereka ke Gunung Lawu. Jangan nekat. Perhutani menekankan bahwa akses pendakian hanya akan dibuka kembali setelah kondisi hutan dinyatakan pulih dan aman sepenuhnya. Pengumuman resmi akan diterbitkan jika keadaan sudah stabil kembali.
Saat ini, operasi pemadaman dan pembersihan lokasi menjadi prioritas tunggal. Kehadiran aktivitas pendakian di tengah situasi darurat ini justru dianggap dapat menghambat pergerakan alat berat dan mobilitas petugas di lapangan.
Pemulihan ekosistem di kawasan yang terdampak kebakaran akan memakan waktu, namun penyelamatan aset hutan dan keselamatan manusia tetap menjadi harga mati bagi semua pihak yang terlibat dalam operasi ini.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.