Ayat-ayat suci terus dirapalkan, ritual-ritual terus dijalankan, dan segala doa terus dipanjatkan untuk memanggil mereka kembali ke rumah.
Ayah Bagus, Jurnalis yang Ingin Berita Anaknya Didengar
Di hari kedua penugasan meliput di Dermaga Carita, datanglah ayah Bagus, Mansyur Suryana. Pria berusia menuju 60 tahun ini tak henti mondar-mandir untuk ngobrol bersama rekan-rekan jurnalis dan tim Basarnas yang ada di posko.
Sebagai seorang jurnalis kontributor Antara di Banten, ia ingin kisah tentang anak satu-satunya itu nyaring terdengar ke seluruh pelosok bumi. Ia ingin putra semata wayangnya itu kembali pulang dengan selamat.
Bagi Mansyur, Muhammad Bagus Khoirunnas bukan sekadar anak tunggal. Dia adalah sosok yang sejak lama dikenalnya sebagai pekerja keras, memiliki jiwa seni, dan tidak mudah gentar ketika harus berada di tengah situasi berisiko demi mendapatkan sebuah gambar.
“Dia itu pekerja keras dan keberaniannya luar biasa. Tidak takut dia, ke mana pun dia, dalam mempublikasikan berita penting,” kata Mansyur saat mengenang putranya. Keberanian Bagus kerap membuat orang tua khawatir. Mansyur masih mengingat dengan jelas bagaimana Bagus bekerja ketika tsunami melanda — tanpa rasa takut, hanya demi menangkap momen penting untuk disampaikan kepada dunia.
Kini, di dermaga Carita yang dipenuhi doa dan harapan, keberanian itu berubah menjadi misteri. Saat cahaya Matahari membelah laut Selat Sunda, ayah, istri, dan rekan-rekan Bagus tetap berharap. Suara doa terus bergema dari pesisir pantai menuju lautan yang masih menyimpan delapan nama, delapan cerita, dan delapan nyawa yang ditunggu pulang.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.