Kobaran api merah menjilat lahan gambut di Desa Mandikapau Timur, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, hingga melahap tiga hektare lahan kering. Kepulan asap pekat sempat membuat panik warga setempat sebelum akhirnya Tim Aksi Karang Intan Aranio Tanggap (RAKAT) bersama personel Buser 690 Banjar terjun ke lokasi untuk melakukan lokalisasi api.
Operasi pemadaman tersebut berlangsung selama tiga jam penuh. Petugas berpacu dengan waktu sebelum angin kencang membawa lidah api lebih jauh ke area pemukiman dan perkebunan warga. Lahan yang terbakar didominasi oleh semak belukar dan hamparan sisa jerami batang padi yang memang sangat mudah tersulut api saat musim kemarau.
Perlawanan di Lahan Gambut
Tim RAKAT tidak bekerja sendirian. Warga sekitar ikut bahu-membahu membawa peralatan seadanya untuk membantu petugas yang sedang berjibaku dengan panasnya lahan gambut. Strategi yang diterapkan cukup menantang.
Tim tidak sekadar memadamkan titik api di permukaan, tetapi juga harus membasahi seluruh area yang terbakar secara menyeluruh untuk memastikan tidak ada bara yang tertinggal di bawah permukaan gambut.
Dalam operasi ini, tim mengandalkan dua unit mesin pompa air alkon yang disambungkan dengan enam rol selang. Air disemprotkan terus-menerus ke titik-titik krusial agar api tidak kembali muncul dari dalam lapisan tanah yang kering dan berongga. Kondisi gambut yang khas membuat pemadaman jauh lebih rumit dibandingkan lahan mineral biasa.
Azim, salah satu penanggung jawab tim di lapangan, menuturkan bahwa api diduga berasal dari pembakaran tumpukan jerami yang dilakukan oleh oknum warga.
Angin kencang yang bertiup saat itu membuat api dengan cepat merembet ke tumpukan jerami lainnya, hingga akhirnya tak terkendali di area semak belukar. Ia bersyukur kolaborasi dengan Buser 690 Banjar berjalan mulus sehingga penyebaran api bisa dihentikan tepat waktu.
Kendala Minimnya Fasilitas
Meski berhasil, operasi pemadaman kemarin menyisakan pekerjaan rumah. Tim RAKAT mengakui adanya hambatan teknis yang cukup krusial. Saat berada di tengah kepungan asap dan panas, para relawan kekurangan masker pelindung pernapasan. Selain itu, jumlah selang yang tersedia sangat terbatas, padahal jangkauan lahan yang terbakar cukup luas.
Azim menuturkan kondisi di lapangan apa adanya. Mereka terpaksa bekerja dengan peralatan yang tersisa sembari berharap ada dukungan lebih baik ke depannya. Selang pemadam, kata Azim, menjadi kebutuhan paling mendesak untuk mempercepat gerak tim saat terjadi karhutla susulan.
Baginya, keterbatasan fasilitas jangan sampai mematikan semangat relawan, tetapi memang menjadi tantangan nyata jika skala kebakaran semakin membesar.
Peringatan untuk Warga
Kondisi geografis Karang Intan yang dominan lahan gambut memang menuntut kewaspadaan ekstra. Kelembapan udara yang rendah di musim kemarau menjadi pemicu utama kenapa api sangat mudah membesar dalam hitungan menit. Azim pun melayangkan imbauan tegas kepada masyarakat agar menahan diri dari membakar lahan, terutama saat cuaca terik dan berangin.
Aktivitas membakar jerami atau membersihkan lahan dengan cara dibakar sering kali dianggap sebagai jalan pintas yang murah. Padahal, taruhannya adalah nyawa dan hilangnya sumber daya alam. Kejadian di Desa Mandikapau Timur ini seharusnya menjadi peringatan keras agar pola pikir mengolah lahan secara tradisional dengan api mulai ditinggalkan.
Saat ini, tim di lapangan tetap memantau kondisi di sekitar lokasi yang terbakar. Mereka tidak ingin kecolongan oleh bara tersembunyi yang sewaktu-waktu bisa kembali tersulut jika terkena tiupan angin kencang. Fokus mereka sekarang beralih pada pencegahan agar insiden serupa tidak terulang di titik-titik lain dalam wilayah administratif Kabupaten Banjar yang masih rentan terhadap karhutla.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.