SELAT SUNDA — Daratan baru seluas 32,8 hektare tiba-tiba menyembul di perairan dekat Gunung Anak Krakatau setelah erupsi berlangsung selama 25 jam pada 4–6 September 2026. Penampakan itu viral di media sosial dan disebut-sebut sebagai “Cucu Gunung Krakatau.”
Badan Geologi Kementerian ESDM mengkonfirmasi penemuan itu melalui evaluasi citra satelit Sentinel.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Rita Susilawati mengatakan, penambahan daratan terjadi di sektor barat laut, barat, hingga barat daya tubuh Gunung Anak Krakatau, akibat pengendapan material piroklastik dan aliran lava.
Selain itu, satelit juga menangkap kemunculan dua “gumuk pulau kecil” di sebelah barat laut dan tenggara dari gunung tersebut, diduga berkaitan dengan jalur bukaan magma yang memanjang dari barat laut ke tenggara saat erupsi.
Bukan Gunung Independen, Melainkan Sedimentasi
Daryono dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) membedah fenomena ini dengan rinci. Menurutnya, daratan baru itu bukanlah gunung api mandiri, melainkan hasil akumulasi material vulkanik—abu, batuan, dan lava—yang mengendap di laut seiring meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak Juli 2026.
Proses penumpukan ini berlangsung bertahap. Material erupsi terakumulasi hingga akhirnya menonjol keluar dari permukaan air. Daryono menjelaskan, kombinasi faktor geologis dan oseanografis mendorong pembentukan ini.
Dasar laut di kawasan kaldera purba sisa letusan 1883 tergolong dangkal, sehingga endapan material erupsi lebih cepat menumpuk tinggi. Ditambah lagi, lontaran piroklastik dan aliran lava selama erupsi dominan terlempar ke arah sektor tersebut.
“Dinamika arus serta gelombang laut Selat Sunda turut berperan penting sebagai pemindah sedimentasi yang membawa material erosi ringan ke titik-titik perairan yang lebih tenang hingga mengendap secara permanen,” katanya saat dihubungi Kamis (24/9/2026).
Masa Depan Daratan: Membesar atau Hilang?
Pertanyaan besar yang muncul: apakah daratan ini akan terus membesar atau justru lenyap kembali? Jawabannya sangat bergantung pada pertarungan antara aktivitas vulkanik dan erosi alam.
Jika Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi, pasokan material baru akan membuat daratan tersebut makin meluas dan ketahanannya makin kokoh, terutama apabila terlapisi lava cair yang membeku menjadi batuan keras.
Sebaliknya, jika erupsi terhenti, hantaman gelombang dan abrasi laut dapat mengikis endapan pasir yang belum padat hingga tenggelam kembali. Bahkan longsoran bawah laut atau erupsi eksplosif besar juga bisa menghancurkan struktur muda ini dalam waktu singkat.
Syarat Ketat untuk Jadi Gunung Baru
Pertanyaan lanjutan yang wajar: bisakah “Cucu Krakatau” ini berkembang menjadi gunung api independen? Daryono menekankan, pembentukan gunung api membutuhkan sejumlah syarat ketat. Agar suatu daratan dapat dikategorikan sebagai gunung api berdiri sendiri, harus memenuhi tiga syarat geologis utama.
Pertama, daratan tersebut harus memiliki saluran magma mandiri yang terhubung langsung ke dapur magma melalui rekahan baru, terpisah dari kawah induknya.
Kedua, daratan itu wajib menghasilkan aktivitas erupsi magmatik sendiri dengan memuntahkan magma atau gas dari kawahnya, bukan sekadar menampung muntahan dari gunung tetangga.
Ketiga, harus terdapat struktur geologis serta deformasi sendiri—adanya aktivitas gempa vulkanik lokal atau pembengkakan tanah yang terpusat tepat di bawah daratan baru tersebut.
“Menghadapi fenomena ini, masyarakat diimbau untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu spekulatif yang beredar di media sosial. Kemunculan daratan baru ini adalah proses sedimentasi vulkanik yang lumrah di kawasan gunung api aktif,” tegas Daryono.
Status Turun ke Level II, Tapi Tetap Dipantau
Sebelumnya, status Gunung Anak Krakatau mengalami perubahan. Sejak 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB, gunung tersebut dinaikkan menjadi Level III (Siaga) berdasarkan peningkatan kegempaan vulkanik dan deformasi. Erupsi menerus menyebabkan gunung mengalami 224 kali letusan hingga 3 September 2026.
Namun, pada Senin (21/9/2026) pukul 18.30 WIB, Badan Geologi menurunkan statusnya menjadi Level II (Waspada). Meskipun status turun, pemantauan tetap dilakukan melalui dua pos pengamatan: Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, dan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
Badan Geologi sendiri menekankan, data citra satelit sebelum-sesudah erupsi masih dalam tahap pencocokkan dan verifikasi lapangan sedang dilakukan. “Langkah paling bijak yang perlu dilakukan adalah selalu menyaring informasi melalui sumber resmi yang berwenang, seperti PVMBG.
Dengan memahami sains di balik fenomena ini, kita dapat tetap tenang, tidak panik, dan selalu mematuhi rekomendasi jarak aman yang ditetapkan oleh petugas di lapangan,” jelas Daryono.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.