JAKARTA — Tiga gunung berapi di Indonesia meletus dalam sehari pada Jumat (25/9/2026). Semeru di Jawa Timur, Ibu di Maluku Utara, dan Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur secara bersamaan mengeluarkan material vulkanik, mengingatkan posisi Indonesia sebagai negara dengan aktivitas vulkanik tertinggi di dunia.
Gunung Semeru meletus pertama kali pada pukul 06.56 WIB. Menurut Badan Geologi, kolom abu mencapai 700 meter di atas puncak gunung, terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter, berlangsung 125 detik.
Kurang dari empat jam kemudian, Gunung Ili Lewotolok di NTT berguncang. Erupsi terjadi sekitar pukul 10.44 WITA (09.44 WIB) dengan kolom abu setinggi 700 meter. Amplitudo seismik mencapai 40 milimeter — tertinggi di antara ketiganya — dalam durasi 64 detik.
Tidak lama setelahnya, pukul 11.48 WIT (09.48 WIB), Gunung Ibu di Maluku Utara turut memberikan tanda aktivitasnya. Kolom abu teramati 400 meter di atas puncak dengan amplitudo maksimum 28 milimeter selama 66 detik.
Aktivitas Vulkanik Terus Dipantau
Ketiga erupsi tersebut menunjukkan pola aktivitas magmatik yang dinamis di berbagai zona vulkanik Indonesia. Semeru, yang terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, dikenal sebagai gunung berapi paling aktif di Jawa Timur dengan riwayat erupsi yang sering.
Ili Lewotolok, meski kurang dikenal dibanding Semeru atau gunung-gunung besar lainnya, merupakan sistem vulkanik kompleks di kawasan Nusa Tenggara Timur yang secara berkala menunjukkan aktivitas magmatik. Tinggi amplitudo seismiknya (40 milimeter) pada erupsi kali ini menandakan energi yang cukup signifikan dilepaskan ke permukaan.
Gunung Ibu di Maluku Utara juga aktif sepanjang tahun dengan frekuensi erupsi dan letusan freatik yang bervariasi. Ketiga gunung berapi ini berada di Cincin Api Pasifik, zona dengan 75 persen gunung berapi dunia dan menghasilkan 90 persen gempa bumi global.
Dampak dan Status Ancaman
Erupsi simultan pada hari yang sama menegaskan kompleksitas geologi vulkanik nusantara. Badan Geologi secara rutin memantau aktivitas ketiga gunung ini melalui data seismik, deformasi tanah, dan pengamatan visual untuk mendeteksi perubahan status ancaman.
Ketiga gunung berapi tersebut termasuk dalam sistem pemantauan aktif Indonesia dengan protokol peringatan dini yang ketat. Status alert level setiap gunung ditentukan berdasarkan intensitas aktivitas dan potensi risiko terhadap pemukiman sekitar.
Data dari Badan Geologi menunjukkan bahwa amplitudo seismik dan durasi erupsi adalah indikator penting dalam mengklasifikasi tingkat keparahan erupsi. Amplitudo 40 milimeter pada Ili Lewotolok menempatkan erupsi ini dalam kategori aktivitas signifikan, sementara Semeru dan Ibu menunjukkan aktivitas moderat hingga sedang.
Fenomena erupsi bersamaan ini bukan hal yang jarang terjadi di Indonesia. Interaksi dinamis antara lempeng tektonik — khususnya subduksi Lempeng Indo-Australia di bawah Lempeng Sunda — menghasilkan tekanan magmatik yang dapat dipicu oleh perubahan stress regional atau lokal di berbagai lokasi secara bersamaan atau dalam selang waktu singkat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.