Warga lereng Gunung Semeru kembali menatap puncak gunung dengan waspada pada Jumat pagi pekan lalu. Gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa ini meletus dua kali berturut-turut, memuntahkan kolom abu vulkanik setinggi 700 meter ke angkasa.
Dentuman letusan pertama memecah kesunyian pagi tepat pukul 06.14 WIB. Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian, mencatat kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal membubung tinggi. Asap itu mencapai 4.376 meter di atas permukaan laut.
Seismograf di pos pengamatan menangkap denyut kuat dengan amplitudo maksimum 22 milimeter selama 138 detik. Arah angin membawa abu tipis tersebut bergerak ke timur laut.
Dua Kali Semburan dalam Satu Jam
Belum sempat debu mengendap, Semeru kembali berulah. Hanya berselang 42 menit dari letusan pertama, tepatnya pukul 06.56 WIB, gunung itu kembali memuntahkan material vulkanik dengan ketinggian yang sama, yakni 700 meter di atas puncak.
Karakteristik letusan kedua sangat mirip dengan yang pertama; warna abu putih hingga kelabu dan arah sebaran yang masih tertuju ke sektor timur laut. Meski durasi letusannya sedikit lebih singkat, yakni 125 detik, getaran seismik tetap berada di angka 22 milimeter.
Intensitas aktivitas vulkanik dalam kurun waktu enam jam pengamatan sejak pagi itu memang tergolong tinggi. Catatan pos pengamatan merekam 27 kali gempa letusan dengan amplitudo bervariasi antara 15 hingga 22 milimeter.
Tak hanya letusan, gunung ini juga menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan lain berupa tiga kali gempa guguran dengan amplitudo 2-6 milimeter serta satu gempa hembusan berdurasi 72 detik.
Status Gunung Semeru kini resmi tertahan di Level III atau Siaga. Peringatan bagi warga sekitar pun dipertegas. Radius bahaya yang ditetapkan pemerintah mencakup sektor tenggara sepanjang jalur aliran Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari pusat erupsi. Kawasan ini merupakan zona letusan primer yang paling mematikan jika sewaktu-waktu awan panas meluncur deras dari puncak.
Zona Larangan yang Mengancam
Selain radius 13 kilometer, petugas juga mengeluarkan larangan keras bagi warga untuk beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang jalur aliran Besuk Kobokan. Potensi ancaman awan panas dan aliran lahar dingin bukan sekadar ancaman sesaat.
Material vulkanik bisa meluncur hingga jarak 17 kilometer dari kawah. Luasan jangkauan ini jauh lebih besar dari perkiraan orang awam yang beraktivitas di sekitar lembah.
Radius lima kilometer dari kawah juga ditetapkan sebagai zona merah yang steril dari manusia. Di sana, lontaran batu pijar menjadi ancaman nyata yang bisa terjadi kapan saja.
Mukdas secara khusus menyoroti empat aliran sungai utama yang menjadi jalur evakuasi alami bagi material vulkanik Semeru, yakni Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Anak-anak sungai yang bercabang dari aliran utama tersebut juga masuk dalam radar pengawasan ketat petugas karena potensi luncuran lahar saat hujan atau aktivitas erupsi meningkat.
Kondisi cuaca di sekitar pos pengamatan sempat mendukung pengamatan visual. Puncak Semeru terlihat cukup jelas, sesekali tertutup kabut tipis, dengan tiupan angin lemah ke arah selatan. Kondisi cerah berawan ini sangat membantu tim vulkanologi memantau perilaku kawah secara langsung.
Meski demikian, karakter Semeru yang sulit ditebak menuntut penduduk di Lumajang dan Malang untuk tetap menaruh perhatian pada informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.
Setiap pergerakan sekecil apa pun di puncak bisa menjadi sinyal eskalasi yang lebih besar di masa mendatang.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.