Senin, 28 September 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Banjir Parigi Moutong Rendam Dua Desa dan Jalan Trans Sulawesi

Banjir merendam permukiman warga dan lumpur membanjiri Jalan Trans Sulawesi di Parigi Moutong setelah tanggul jebol
Banjir pasca jebolnya tanggul di bantaran sungai menggenangi permukiman Desa Tomoli Utara dan menutup akses Jalan Trans Sulawesi (27/9). (Ilustrasi: AI)

Ratusan warga di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, terbangun dengan kepanikan luar biasa pada Minggu dini hari, 27 September. Air bah tiba-tiba menyapu permukiman mereka saat hujan deras masih turun tanpa henti, memicu jebolnya tanggul penahan air di bantaran sungai setempat.

Peristiwa ini melumpuhkan akses vital di wilayah tersebut. Jalan Trans Sulawesi, yang menjadi nadi utama mobilitas antarprovinsi, kini terputus total akibat tertutup tumpukan material lumpur dan puing-puing yang terbawa arus deras. Kendaraan dari kedua arah tertahan, menciptakan antrean panjang yang tak terelakkan sejak pagi buta.

Detik-detik Tanggul Jebol

Langit Parigi Moutong memang sudah gelap sejak Sabtu malam. Namun, puncak ketegangan terjadi tepat pukul 03.00 WITA saat hujan dengan intensitas tinggi mulai mengguyur kawasan Kecamatan Toribulu. Tanpa jeda, volume air sungai perlahan membengkak. Arus yang datang begitu kuat dan liar.

Tak lama kemudian, tanggul penahan air yang menjadi benteng pertahanan terakhir permukiman warga menyerah. Konstruksi tanggul jebol tak mampu menahan beban debit air yang melampaui kapasitas normalnya. Sekitar pukul 05.30 WITA, air berlumpur mulai mengalir deras, merangsek masuk ke rumah-rumah penduduk tanpa permisi.

Kapolsek Ampibabo, Iptu Ansaruddin, membenarkan situasi tersebut. Menurutnya, kerusakan tanggul menjadi pemicu utama meluapnya air hingga ke badan jalan. “Banjir terjadi setelah tanggul penahan air di bantaran sungai jebol sehingga aliran air meluap dan menggenangi permukiman warga hingga ruas Jalan Trans Sulawesi,” ujar Ansaruddin saat dikonfirmasi, Minggu pagi.

Dampak di Jalur Utama

Lumpur setebal belasan sentimeter kini melapisi permukaan Jalan Trans Sulawesi di Desa Tomoli Utara. Pemandangan di lokasi tampak kacau. Kendaraan roda empat maupun roda dua terjebak, sementara warga sekitar berusaha menyelamatkan perabotan rumah tangga yang terendam air kotor.

Data sementara menunjukkan 90 rumah warga terdampak langsung oleh limpahan banjir ini. Dari puluhan bangunan tersebut, satu rumah dilaporkan mengalami kerusakan sangat parah hingga nyaris rata dengan tanah. Beruntung, bangunan tersebut sedang tidak berpenghuni saat air menerjang, sehingga potensi jatuhnya korban jiwa dapat dihindari.

Bagi pengendara yang melintas, kondisi ini sungguh menyiksa. Jalur Trans Sulawesi adalah urat nadi perekonomian daerah. Terputusnya jalur ini otomatis menghentikan distribusi barang kebutuhan pokok ke wilayah terpencil. Warga yang berniat menuju pusat kota untuk urusan kesehatan maupun pekerjaan terpaksa memutar balik atau menunggu hingga alat berat tiba untuk membersihkan timbunan material.

Evakuasi dan Mitigasi

Sejak matahari terbit, personel Polsek Ampibabo langsung terjun ke lapangan. Mereka tidak hanya memantau debit air, tetapi juga membantu warga memindahkan barang berharga. Sembari memegang sekop, petugas bahu-membahu menyingkirkan kerikil dan endapan lumpur yang menghalangi akses jalan utama agar setidaknya bisa dilalui kendaraan darurat.

Kerugian material masih dihitung secara rinci oleh aparat desa setempat. Namun, yang jauh lebih penting saat ini adalah memastikan tidak ada warga yang terjebak di dalam rumah yang terendam. Iptu Ansaruddin menegaskan bahwa prioritas timnya tetap pada keselamatan nyawa manusia. Tidak ada laporan mengenai warga yang hilang atau meninggal dunia hingga laporan ini diturunkan.

Warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai kini diminta meningkatkan kewaspadaan. Mengingat intensitas curah hujan di wilayah Sulawesi sering berubah secara drastis, risiko banjir susulan tetap mengintai.

Pihak kepolisian mengimbau masyarakat agar segera mengevakuasi diri ke tempat yang lebih tinggi jika tanda-tanda debit air kembali naik terlihat, terutama saat hujan kembali turun di siang atau malam hari.

Pemerintah daerah kini berada di bawah tekanan untuk segera melakukan perbaikan tanggul yang jebol. Mengingat intensitas hujan diprediksi masih akan tinggi dalam beberapa pekan ke depan, langkah antisipasi perbaikan permanen menjadi satu-satunya cara agar warga tidak terus-menerus menjadi korban saat langit Parigi Moutong mencurahkan airnya.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 28 September 2026: Cara Cek NIK KTP Online