JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) anjlok Rp16.000 per gram pada Senin (28/9/2026), menjadi Rp2.597.000. Penurunan ini memperpanjang tren koreksi emas Antam selama tiga hari berturut-turut, memicu kekhawatiran apakah harga akan terus merosot hingga menyentuh level support Rp2.520.000 besok atau justru mengalami rebound.
Harga buyback emas Antam juga ikut merosot Rp16.000, menjadi Rp2.422.000, dengan selisih atau spread Rp175.000. Penurunan ini merupakan bagian dari koreksi bulanan yang signifikan, di mana sepanjang September, harga emas Antam telah terkoreksi Rp67.000 atau 2,5%, menandai kinerja bulanan negatif pertama sejak Juli 2026.
Koreksi Beruntun dan Potensi Lanjutan
Data menunjukkan, sejak Kamis (24/9/2026), harga emas Antam telah mengalami penurunan berturut-turut: Kamis (-Rp25.000), Jumat (-Rp15.000), dan Senin (-Rp16.000), dengan total koreksi Rp56.000 dalam tiga hari. Meski demikian, secara tahunan, emas Antam masih membukukan kenaikan 4,3-5,02% dari harga Rp2.488.000 pada 1 Januari 2026. Namun, dari puncaknya di Mei 2026 (Rp2.859.000), harga saat ini telah turun Rp262.000 atau 9,2%.
Menurut Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, harga emas Antam besok diprediksi fluktuatif namun cenderung bertahan di zona merah. Ibrahim menyebut level support pertama di Rp2.643.000 dan support kedua yang lebih krusial di Rp2.520.000. Sementara itu, level resistance pertama berada di Rp2.673.000 dan resistance kedua di Rp2.720.000. Ini mengindikasikan rentang perdagangan yang luas antara Rp2.520.000 hingga Rp2.720.000 untuk Selasa (29/9/2026).
Faktor-faktor Pemicu Penurunan Harga
Penurunan harga emas Antam sangat dipengaruhi oleh anjloknya harga emas dunia. Pagi ini, harga emas spot dilaporkan anjlok 1,63% ke US$4.215,1 per troy ounce. Beberapa faktor global turut berkontribusi pada sentimen bearish ini:
- Kebijakan The Fed yang Hawkish: The Federal Reserve menaikkan suku bunga 25 basis poin pada 16 September 2026 menjadi 3,75%-4% dan memberi sinyal kenaikan lebih lanjut. Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada FOMC Oktober mencapai 65,9%. Suku bunga yang tinggi membuat aset non-yielding seperti emas kurang menarik.
- Penguatan Dolar AS dan Harga Minyak: Indeks Dolar AS (DXY) kembali di atas 101, sementara harga minyak mentah WTI dan Brent juga menguat. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi, yang pada gilirannya dapat mendorong bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat, memperkuat dolar, dan menekan emas.
- Sinyal Teknis Bearish: Analisis teknikal menunjukkan XAU/USD berada di bawah Simple Moving Average (SMA) 100-hari dan 200-hari, serta di bawah garis tren (trendline) penting. Indikator Relative Strength Index (RSI) juga mendekati area jenuh jual, meskipun belum menunjukkan sinyal pembalikan yang kuat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.