JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi tahunan (year-on-year/YoY) Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28 persen. Angka ini merupakan yang tertinggi sepanjang tahun 2026, meskipun sedikit di bawah konsensus ekonom sebesar 3,3 persen. Laju inflasi ini juga menunjukkan kenaikan dari Agustus yang tercatat 3,19 persen.
Kenaikan inflasi tersebut dipicu oleh lonjakan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta transportasi, yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Tiga Angka Penting Inflasi September 2026
Berdasarkan rilis BPS pada Kamis, 1 Oktober 2026, terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,74 pada September 2025 menjadi 112,31 pada September 2026. Data rinci inflasi September 2026 menunjukkan:
| Jenis Inflasi | Angka | Keterangan |
|---|---|---|
| Bulanan (MtM) | 0,30% | Naik dari Agustus 0,21%. IHK naik dari 111,97 (Agustus) ke 112,31 (September). |
| Tahunan (YoY) | 3,28% | IHK September 2025 108,74 → September 2026 112,31. |
| Tahun Kalender (YtD) | 2,17% | Periode Januari-September 2026. |
Kondisi inflasi ini menjadi sorotan karena melampaui batas tengah target Bank Indonesia yang berkisar antara 1,5 persen hingga 3,5 persen.
Penyumbang Utama Kenaikan Inflasi
Tiga kelompok pengeluaran menjadi biang kerok inflasi pada September 2026:
1. Makanan, Minuman, dan Tembakau
Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 4,37 persen YoY dan memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum, yakni 1,28 persen. Secara bulanan, kelompok ini inflasi 0,88 persen MtM dengan andil 0,26 persen.
Komoditas yang paling signifikan menyumbang inflasi adalah:
- Cabai rawit: Andil 0,08 persen MtM, dengan harga mencapai Rp109.000/kg pada 29 September, naik 13,72 persen dalam sehari.
- Beras: Harga di penggilingan naik 0,81 persen MtM dan 6,04 persen YoY (Rp14.329/kg), sementara di eceran naik 0,80 persen MtM dan 3,73 persen YoY (Rp15.769/kg).
- Daging ayam ras: Naik 23,87 persen di Sulawesi Selatan.
- Cabai merah, telur ayam ras, ikan segar, minyak goreng, dan Sigaret Kretek Mesin (SKM) juga turut berkontribusi.
2. Transportasi
Kelompok transportasi mencatatkan inflasi 4,84 persen YoY dengan andil 0,58 persen. Pemicu utamanya adalah kenaikan harga bensin non-subsidi (Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex) sebesar Rp300-Rp1.100 per 1 Oktober 2026, mengikuti kenaikan harga minyak Brent global yang mencapai US$107,86 per barel. Selain itu, tarif angkutan udara, pelumas/oli mesin, sepeda motor, dan biaya servis juga mengalami peningkatan.
3. Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya
Inflasi pada kelompok ini mencapai 7,77 persen YoY, dengan andil 6,53 persen. Meskipun demikian, harga emas perhiasan yang menjadi pemicu utama di kelompok ini justru mengalami deflasi -0,01 persen MtM. Hal ini membantu menahan laju inflasi inti.
Peta Daerah Inflasi: Sulawesi Utara Paling Parah
Sebanyak 36 dari 38 provinsi di Indonesia mengalami inflasi pada September 2026. Provinsi Sulawesi Utara mencatatkan inflasi bulanan tertinggi sebesar 3,53 persen MtM, sekaligus inflasi tahunan tertinggi secara nasional mencapai 7,59 persen YoY. Sementara itu, deflasi terdalam terjadi di Nusa Tenggara Timur (-0,35 persen MtM). Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan inflasi tahunan terendah, yaitu 2,55 persen YoY.
Dampak Inflasi terhadap Perekonomian
Kenaikan inflasi ini memiliki sejumlah implikasi:
- Pasar Saham dan Kurs Rupiah: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah ke 6.062 pada sesi pembukaan 1 Oktober 2026, menunjukkan kekhawatiran investor akan potensi penahanan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia. Nilai tukar rupiah juga melemah ke Rp17.915 per dolar AS, dipengaruhi oleh kenaikan yield US Treasury dan penguatan indeks dolar.
- Daya Beli Masyarakat: Kenaikan harga komoditas pangan seperti cabai rawit dan beras secara signifikan menekan daya beli masyarakat. Belanja rumah tangga dilaporkan naik hingga 20 persen dibandingkan bulan sebelumnya di beberapa daerah.
- Kebijakan Moneter: Meskipun inflasi 3,28 persen masih dalam target BI, posisi di atas titik tengah 2,5 persen mengindikasikan bahwa Bank Indonesia kemungkinan akan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 6 persen dan tidak akan melakukan penurunan suku bunga tahun ini. Inflasi inti yang justru turun ke 2,82 persen YoY dari 2,92 persen menunjukkan bahwa kenaikan inflasi bukan disebabkan oleh permintaan yang memanas, melainkan oleh faktor pasokan pangan dan energi.
BPS mengingatkan bahwa bulan Oktober berpotensi kembali mengalami inflasi pangan akibat musim hujan dan gangguan distribusi. Instansi terkait diminta untuk menjaga stabilitas pasokan cabai, beras, dan daging ayam guna mengantisipasi lonjakan harga lebih lanjut.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.