NUSA TENGGARA TIMUR — Pemerintah membuka kran bantuan besar-besaran untuk warga NTT yang rumahnya hancur tertimpa gempa bermagnitudo 7,7 pada Agustus lalu. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto menjanjikan dana perbaikan rumah dan hunian sementara mulai dicairkan Oktober ini.
Data BNPB per 27 September 2026 mencatat 44.767 unit rumah telah terverifikasi rusak. Angka itu mencakup rumah rusak berat, sedang, dan ringan tersebar di tujuh kabupaten Flores: Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ende, Ngada, Sikka, dan Flores Timur yang semuanya merasakan gempa dahsyat dua bulan lalu.
Skema bantuan yang dikebut BNPB mencakup empat pilar. Pertama, dana stimulan untuk rumah rusak ringan senilai Rp15 juta dan rusak sedang Rp30 juta. Kedua, hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) bagi pemilik rumah rusak berat.
Ketiga, Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp600 ribu per bulan selama tiga bulan bagi yang menolak huntara. Keempat, dana perbaikan melalui verifikasi dan pencairan bertahap.
“Saya sudah perintahkan agar di bulan Oktober ini, secepatnya dana tersebut sudah bisa disalurkan dan dicairkan oleh warga yang berhak menerima,” tegas Suharyanto dalam keterangannya Kamis (1/10/2026).
Mekanisme Pencairan Dana Perbaikan
Untuk dana perbaikan rumah, BNPB akan menyalurkannya langsung ke rekening masing-masing penerima setelah proses verifikasi selesai. Dari jumlah yang masuk, warga bisa langsung mencairkan 75 persen secara tunai tanpa syarat. Sementara 25 persen sisanya hanya bisa diambil dengan menunjukkan bon atau bukti pembelian material bangunan.
Mekanisme bertingkat ini dirancang untuk memastikan dana benar-benar digunakan memperbaiki rumah, bukan dialihkan ke keperluan lain. “Saya tegaskan, dana itu digunakan untuk perbaikan rumah ya,” tegas Suharyanto.
Proses verifikasi penerima Dana Tunggu Hunian dan huntara telah dimulai. Data pemutakhiran per 28 September 2026 menunjukkan target sementara ada 4.008 penerima dengan estimasi pembiayaan total mencapai Rp136.272.000.000.
Pembangunan Huntara Sudah Dimulai
Sementara pendataan berlangsung, konstruksi hunian sementara tidak menunggu lama. Per 29 September 2026, dari target huntara yang ditetapkan, sudah ada 124 unit selesai dibangun 100 persen. Sebanyak 861 unit lainnya masih dalam pengerjaan dengan progres di bawah 50 persen, 117 unit sudah melampaui 50 persen, dan 299 unit baru dalam tahap persiapan lahan dan survei lokasi.
Huntara yang dibangun BNPB mengikuti standar minimal: ruang 4×6 meter dengan satu kamar tidur dan satu kamar mandi atau toilet. Sedangkan huntap (hunian tetap) dirancang setara rumah tipe 36 yang memiliki dua kamar tidur, ruang tamu, dan satu kamar mandi. Perbedaan ini memastikan warga punya tempat tinggal layak sambil rumah tetap mereka dibangun.
Tiga Skema Pembangunan Hunian
BNPB menawarkan fleksibilitas kepada warga terdampak dalam memilih lokasi hunian. Skema pertama adalah komunal atau relokasi terpusat dalam satu kompleks pemukiman baru yang dirancang khusus. Skema kedua disebut in situ, yakni hunian dibangun di atas tanah asal sebelum rumah rusak. Skema ketiga adalah mandiri: dibangun di atas lahan milik sendiri tapi lokasi berbeda (pindah lokasi).
Jika lahan pribadi warga cukup luas, mereka bisa mendapat huntara dan huntap di lahan yang sama, menghemat pengurusan lokasi dan koordinasi.
Tujuh Kabupaten Keluar dari Status Darurat
Gempa M7,7 yang mengguncang NTT pada 16 Agustus 2026 membuat ribuan struktur bangunan runtuh dan ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Menjelang Oktober, pemerintah mulai mengakhiri status tanggap darurat bertahap.
Enam dari tujuh kabupaten terdampak sudah menutup periode tanggap darurat akhir September lalu. Tiga kabupaten terakhir — Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo — mengakhiri status tanggap darurat pada 28 September 2026.
Penutupan status tanggap darurat tidak berarti krisis berakhir. Sebaliknya, fase ini menandai transisi dari respons cepat ke pemulihan jangka panjang. Pembangunan hunian dan penyaluran dana perbaikan adalah inti dari fase pemulihan tersebut.
Target BNPB bulan depan adalah mengakselerasi pencairan dana stimulan dan melanjutkan konstruksi hunian. Suharyanto menekankan kecepatan tanpa mengorbankan verifikasi yang ketat, agar bantuan tepat sasaran dan warga segera bisa membangun kembali kehidupan mereka setelah kehilangan rumah akibat bencana alam yang menghantam dua bulan lalu.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.