BANGKOK — Banjir yang melanda kota ini membuat maskapai Thai Airways International terpaksa menghentikan seluruh operasi kargo di Bandara Internasional Suvarnabhumi. Langkah drastis diambil sejak 1 Oktober karena gudang penuh sesak dengan ribuan bagasi penumpang yang tak terambil akibat kekurangan tenaga kerja.
Embargo kargo berlaku hingga 6 Oktober dengan pengecualian khusus untuk dokumen diplomatik, hewan hidup, jenazah manusia, dan kiriman surat. Penundaan lima hari ini diharapkan memberikan waktu bagi maskapai untuk merapikan gudang yang penuh sesak dan mengembalikan operasi ke jalur normal mulai 7 Oktober.
“Banjir telah membuat karyawan tertahan di rumah,” ungkap departemen operasi terminal kargo Thai Airways. Akibatnya, kehadiran tenaga kerja darat turun drastis, sehingga maskapai kesulitan melepaskan barang kepada pelanggan dan memuat bagasi untuk penerbangan terjadwal.
Ribuan Bagasi Tertinggal
Masalah ini sebenarnya telah berlangsung sejak 26 September lalu. Pada hari pertama banjir, gangguan lalu lintas membuat staf bandara kesulitan tiba di tempat kerja. Penumpukan bagasi semakin parah setiap harinya.
Hingga 30 September, sekitar 5.600 bagasi masih menunggu untuk diserahkan kembali kepada penumpang. CEO Thai Airways Chai Eamsiri mengakui dalam siaran langsung pada 29 September bahwa operasi sangat kacau: kurang dari 3% penerbangan berangkat tepat waktu selama dua hari sebelumnya, dan hanya sekitar setengah dari jumlah tenaga kerja darat yang mampu hadir.
Gedung kargo Suvarnabhumi kini melebihi kapasitas maksimal. Pelanggan tidak dapat mengambil barang mereka karena keterbatasan staf, sehingga peralatan handling bagasi menjadi tersendat. Thai Airways pun memutuskan untuk mengurangi keberangkatan dari Bangkok sebesar 30% hingga 40% dalam beberapa hari ke depan agar operasi dapat distabilkan kembali.
Pembatalan Penerbangan Meluas
Dampak banjir terlihat dari pembatalan 37 penerbangan domestik dan internasional yang dijadwalkan antara 29 September hingga 1 Oktober. Rute-rute besar seperti London, Frankfurt, Tokyo, Seoul, Singapura, dan Sydney terganggu.
Maskapai nasional Thailand ini juga menangani bagasi untuk maskapai mitra di Bandara Suvarnabhumi, sehingga gangguan berpengaruh lebih luas pada ekosistem penerbangan di bandara tersebut.
Bandara Suvarnabhumi adalah hub penerbangan utama Thailand dan menjadi tulang punggung pariwisata. Bangkok sendiri tercatat sebagai kota paling banyak dikunjungi turis internasional di dunia pada 2025, dengan 30,3 juta kedatangan menurut riset Euromonitor International.
Banjir seperti ini tidak hanya merusak pengalaman wisatawan, tetapi juga merugikan ekonomi penerbangan dan pariwisata negara secara signifikan.
Dengan penghentian sementara selama enam hari, Thai Airways berharap dapat menyelesaikan penumpukan bagasi dan memulihkan operasi kargo ke kondisi normal. Maskapai mengimbau penumpang untuk bersabar dan terus memantau perkembangan situasi di bandara.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.