JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Pemerintah resmi meluncurkan Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015 dengan kupon minimal 6,75 persen untuk tenor 2 tahun (SBR015T2) dan 6,85 persen untuk tenor 4 tahun (SBR015T4). Angka ini menjadi yang tertinggi untuk penerbitan SBR sejak tahun 2020. Penawaran SBR015 telah dibuka sejak 28 September 2026 pukul 09.00 WIB dan akan berakhir pada 22 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB.
Keputusan Kementerian Keuangan menetapkan kupon tinggi ini datang di tengah kondisi pasar yang bergejolak, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok ke 6.241 dan nilai tukar Rupiah menyentuh Rp17.966 per dolar AS. SBR015 diharapkan menjadi pilihan investasi yang menarik dan aman bagi investor ritel, menawarkan imbal hasil bersih sekitar 6,08-6,17 persen per tahun setelah dipotong pajak.
Rincian SBR015: Tenor, Kupon, dan Skema Floating with Floor
SBR015 hadir dalam dua pilihan tenor. SBR015T2 memiliki tenor 2 tahun dengan jatuh tempo 10 Oktober 2028, sementara SBR015T4 memiliki tenor 4 tahun dengan jatuh tempo 10 Oktober 2030. Kedua seri ini menggunakan skema floating with floor, artinya kupon dapat naik jika BI Rate meningkat, namun tidak akan turun di bawah batas minimal yang telah ditetapkan.
Spread kupon untuk SBR015T2 ditetapkan 100 bps di atas BI Rate, sedangkan SBR015T4 memiliki spread 110 bps. Dengan BI Rate saat penetapan sebesar 5,75 persen, kupon minimal yang didapat adalah 6,75 persen (5,75% + 1,00%) untuk SBR015T2 dan 6,85 persen (5,75% + 1,10%) untuk SBR015T4. Penyesuaian kupon dilakukan setiap tiga bulan, yaitu pada 11 Januari, 11 April, 11 Juli, dan 11 Oktober.
Total kuota nasional yang disiapkan pemerintah untuk SBR015 mencapai Rp20 triliun, dengan rincian Rp15 triliun untuk SBR015T2 dan Rp5 triliun untuk SBR015T4. Pembelian minimal adalah Rp1 juta, dengan batas maksimal Rp5 miliar untuk SBR015T2 dan Rp10 miliar untuk SBR015T4.
Keunggulan SBR015 Dibanding Pilihan Investasi Lain
Kupon SBR015 yang lebih tinggi dari seri sebelumnya, SBR014 (6,25% dan 6,35%), membuatnya sangat kompetitif. Apalagi jika dibandingkan dengan deposito bank yang saat ini menawarkan bunga antara 3,5%-4,25% sebelum pajak 20%. Setelah dipotong pajak 10%, imbal hasil bersih SBR015 jauh lebih tinggi.
Sebagai contoh, investasi Rp100 juta pada SBR015T2 akan menghasilkan kupon bruto Rp6.750.000 per tahun atau Rp562.500 per bulan. Setelah pajak 10%, investor akan menerima Rp506.250 per bulan, atau Rp6.075.000 per tahun secara bersih. Jumlah ini hampir dua kali lipat dari imbal hasil bersih deposito dengan nominal yang sama.
COO Bareksa, Ni Putu Kurniasari, menyebut kupon SBR015 menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir untuk SBR. Skema floating rate ini memberikan keuntungan tambahan, karena kupon bisa disesuaikan naik jika BI Rate kembali meningkat di masa mendatang, sambil tetap menjaga batas bawah yang aman.
Jaminan Negara dan Fitur Early Redemption
SBR015 dijamin 100 persen oleh negara berdasarkan Undang-Undang Surat Berharga Negara, sehingga risiko gagal bayar adalah nol. Ini menjadikannya pilihan investasi yang sangat aman, terutama saat pasar saham sedang bergejolak.
Meskipun tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder, SBR015 dilengkapi fitur early redemption. Investor dapat mencairkan sebagian investasinya (maksimal 50%) sebelum jatuh tempo. Untuk SBR015T2, periode early redemption adalah 27 Oktober – 4 November 2027, sementara untuk SBR015T4 pada 30 Oktober – 6 November 2028.
Kupon pertama SBR015 akan dibayarkan pada 10 Desember 2026, dan selanjutnya setiap tanggal 10 setiap bulan. Investor dapat membeli SBR015 melalui berbagai mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan, termasuk platform investasi seperti Bareksa dan Bibit, serta sejumlah bank besar seperti BCA, Mandiri, BNI, BRI, BTN, dan BSI.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.