Minggu, 4 Oktober 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Studi: 23 Persen Pemimpin Berbohong Soal Pengetahuan AI Mereka

Studi: 23 Persen Pemimpin Berbohong Soal Pengetahuan AI Mereka
Studi: 23 Persen Pemimpin Berbohong Soal Pengetahuan AI Mereka

LONDON — Fenomena tekanan untuk menguasai teknologi kecerdasan buatan atau AI kini merambah hingga ke jajaran eksekutif puncak perusahaan. Riset terbaru dari Emergn mengungkap fakta mencengangkan bahwa sebanyak 23 persen pemimpin senior di Inggris mungkin bersikap tidak jujur mengenai tingkat pemahaman mereka terhadap AI.

Kesenjangan pengetahuan ini disinyalir muncul karena rasa malu atau ketidaknyamanan untuk mengakui ketidaktahuan di tengah tuntutan profesional yang terus meningkat.

Laporan tersebut menyebutkan, 38 persen pemimpin senior merasa karier mereka terancam jika tidak segera meningkatkan kemampuan AI dalam satu tahun ke depan. Padahal, posisi mereka menuntut untuk selalu menjadi pihak yang memiliki jawaban atas setiap persoalan di kantor.

Tekanan Jabatan dan Rasa Takut

Dunia korporasi saat ini bergerak sangat cepat akibat adopsi teknologi baru. Hal ini menciptakan beban mental tersendiri bagi para pengambil keputusan.

Data Emergn mencatat 22 persen pemimpin mengaku sering merasa cemas hingga kesulitan tidur karena perubahan industri yang dipicu AI terjadi terlalu cepat. Angka yang sama juga menunjukkan banyak pemimpin merasa kewalahan atau kehilangan kendali atas peran mereka karena dampak AI.

CEO Emergn, Alex Adamopoulos, menjelaskan sulitnya posisi seorang pemimpin dalam situasi ini. “Sangat sulit untuk mengakui bahwa Anda tidak memahami sesuatu ketika Anda seharusnya menjadi orang yang memberikan jawaban,” ujar Adamopoulos melalui keterangan resminya.

Meskipun ditemukan perilaku menyembunyikan keterbatasan pengetahuan, para pemimpin ini tetap menuntut standar tinggi bagi organisasinya. Sebanyak 43 persen dari mereka kini lebih menghargai keterampilan praktis terkait AI dibandingkan kualifikasi formal atau ijazah tradisional. Ini mencerminkan pergeseran paradigma bahwa kemahiran teknis kini dianggap sebagai aset vital di level manajemen.

Tantangan Pelatihan yang Belum Merata

Persoalan kepemimpinan ini diperparah dengan minimnya akses pelatihan yang berkualitas. Hanya 43 persen responden yang mengaku telah menerima pelatihan AI yang substansial dalam 12 bulan terakhir.

Hingga saat ini, tanggung jawab pengembangan SDM di bidang teknologi tersebut masih menjadi perdebatan internal perusahaan, apakah harus dibebankan pada tim IT atau dikelola secara mandiri oleh tiap unit bisnis.

Emergn menekankan bahwa pendekatan pelatihan harus diubah agar lebih berpusat pada manusia. Fokusnya bukan sekadar mengenali perangkat lunak baru, melainkan bagaimana AI membantu karyawan menyelesaikan masalah nyata dalam pekerjaan sehari-hari.

Adamopoulos menambahkan bahwa pemimpin harus berani belajar secara terbuka dan mengakui keterbatasan mereka sama seperti karyawan lainnya. Langkah ini penting agar tercipta budaya di mana setiap orang mampu melihat masa depan karier mereka di tengah transformasi teknologi yang tidak terelakkan.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 4 Oktober 2026: Klaim Pack & Coins Gratis