Pernyataan itu nyambung dengan temuan lain dalam laporan ini: masih ada ketergantungan pada cerita di mana identitas tokoh menjadi inti konflik atau inti plot. Dr Stella Louis, konsultan, pelatih, dan penulis awal usia, menyebut ada “continued reliance” pada buku seperti itu.
Ia bertanya, “Why can’t a child simply be south Asian, disabled, neurodivergent or bilingual and also be the hero of an ordinary story about friendship, adventure, loss or joy?”
Pertanyaan itu terasa tajam. Soalnya, bagi pembaca muda, buku bukan sekadar hiburan. Buku juga cermin. Kalau cerminnya sempit, anak yang membuka halaman-halaman itu bisa merasa dirinya hadir hanya sebagai pengecualian, bukan bagian dari cerita utama.
Dampaknya ke industri buku dan pembaca
Di titik ini, dampak ke industri penerbitan jadi jelas. Penerbit yang hanya mengandalkan pola lama berisiko kehilangan relevansi di tengah pembaca yang makin beragam. Sementara itu, perpustakaan, sekolah, dan orang tua ikut terdorong untuk memilih judul yang lebih luas dalam mewakili latar, bahasa, disabilitas, dan pengalaman hidup anak-anak.
Laporan tersebut juga menyorot buku-buku dengan tokoh MENA. Ketiga buku yang terbit pada 2025 dengan tokoh utama MENA semuanya berupa narasi pengungsi. Menurut para penulis studi, anak-anak berlatar MENA membutuhkan kisah yang menjangkau tema lebih luas dan pengalaman yang lebih beragam.
Nadine Kaadan, penulis Arab, mengatakan, “As an Arab author, it is painful to see the number of children’s fiction books representing our region decline from six to only three in 2025,” seraya menambahkan bahwa fakta semua judul itu berfokus pada pengalaman pengungsi berisiko memperkuat “single story” tentang kawasan tersebut, yakni mendefinisikannya lewat “war and displacement rather than our rich cultures and heritage”.
Di sisi lain, laporan ini tidak sepenuhnya gelap. Representasi neurodivergen di picture books naik dari tiga judul pada 2024 menjadi 13 pada tahun lalu. Di kategori bayi dan balita, jumlah buku dengan karakter utama dari kelompok yang termarjinalkan naik 29,4%. Ada gerak maju, walau belum merata.
Jack Hope, konsultan buku anak, menilai angka-angka ini harus dibaca sebagai dorongan perubahan, bukan sekadar statistik.
Ia berkata, “When children’s enjoyment of reading is at a significant low, it’s more important than ever that the stories children encounter reflect their lives, identities, experiences and emotions.” Ia menambahkan, “These figures need to be more than mere statistics and a call to action for continued change and improvements.”
Kalimat terakhir itu menjadi inti persoalan. Bagi penerbit, pertanyaannya kini bukan hanya berapa banyak buku yang terbit, melainkan siapa yang benar-benar terlihat di dalamnya. Dan bagi anak-anak, jawabannya dibaca dari halaman pertama.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.