JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Harga minyak dunia hari ini, Senin (5/10/2026), menunjukkan stabilitas di level tinggi, dengan Brent Crude bertahan di atas US$102 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) di sekitar US$91 per barel. Namun, pasar mewaspadai potensi eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya di Selat Bab el-Mandeb, menyusul operasi militer skala penuh yang dilancarkan Arab Saudi di Yaman dan serangan Houthi terhadap fasilitas minyak Saudi.
Situasi ini kian kompleks dengan keputusan negara-negara G7 untuk melepas 100 juta barel cadangan darurat, sementara OPEC+ memilih menahan kuota produksi untuk November. Perkembangan ini tidak hanya memengaruhi dinamika pasar energi global, tetapi juga memberikan tekanan pada mata uang rupiah dan berpotensi memicu inflasi di berbagai negara.
Harga Minyak Konsolidasi di Atas US$100
Minyak mentah Brent (internasional) pada 5 Oktober 2026 diperdagangkan stabil di kisaran US$102,25 hingga US$102,87 per barel, menunjukkan kenaikan terbatas 0,39% hingga 0,46% hari ini. Angka ini menandai lonjakan signifikan, naik 7,05% dalam sebulan terakhir dan 58,45% secara tahunan. Sementara itu, WTI Crude (AS) sedikit terkoreksi antara US$91,00 hingga US$99,17 per barel, dengan penurunan 0,33% sampai 1,13%.
Kenaikan harga minyak telah mendorong harga diesel mencapai rekor tertinggi di pompa bensin AS dan global, menandakan krisis di sektor hilir energi. Kenaikan harga minyak mentah secara drastis ini tak lepas dari memanasnya situasi geopolitik.
Konflik Yaman dan Bab el-Mandeb Jadi Ancaman Jalur Migas
Ketegangan antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan Arab Saudi terus meningkat. Pasukan yang didukung Saudi meluncurkan operasi militer skala penuh di Yaman untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi. Kondisi ini menjadi sorotan karena Houthi menguasai seluruh pantai Laut Merah Yaman dan Selat Bab el-Mandeb.
Bab el-Mandeb merupakan titik vital jalur pengiriman minyak strategis yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden. Jalur ini penting bagi Arab Saudi sebagai alternatif ekspor minyak tanpa melewati Selat Hormuz, terutama setelah Hormuz ditutup sejak Maret 2026 akibat konflik AS-Israel versus Iran yang berlangsung tujuh bulan.
Serangan terbaru memperburuk situasi. Pada 3 Oktober, Houthi mengklaim menyerang fasilitas minyak Saudi Aramco di selatan Riyadh dengan rudal balistik dan drone, menyebabkan kebakaran. Sebelumnya, 11 September, pipa Timur-Barat, jalur utama ekspor Saudi, diserang dan sempat ditutup. Akhir pekan lalu, Houthi juga mengklaim menyerang target “sensitif” di Riyadh dan fasilitas Aramco di Yanbu, kota pesisir Laut Merah yang merupakan pusat ekspor penting Saudi. Houthi bahkan mengumumkan blokade terhadap kapal-kapal Saudi, meningkatkan premi asuransi dan risiko logistik global.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.