Senin, 5 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Harga Minyak Dunia Hari Ini Stabil di US$102: Brent US$102,25 WTI US$91,00, Konflik Houthi vs Arab Saudi di Bab el-Mandeb Memanas

Harga Minyak Dunia Hari Ini
Harga Minyak Dunia Hari Ini Stabil di US$102: Brent US$102,25 WTI US$91,00, Konflik Houthi vs Arab Saudi di Bab el-Mandeb Memanas. Credit: Dok. JournalArta

JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Harga minyak dunia hari ini, Senin (5/10/2026), menunjukkan stabilitas di level tinggi, dengan Brent Crude bertahan di atas US$102 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) di sekitar US$91 per barel. Namun, pasar mewaspadai potensi eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya di Selat Bab el-Mandeb, menyusul operasi militer skala penuh yang dilancarkan Arab Saudi di Yaman dan serangan Houthi terhadap fasilitas minyak Saudi.

Situasi ini kian kompleks dengan keputusan negara-negara G7 untuk melepas 100 juta barel cadangan darurat, sementara OPEC+ memilih menahan kuota produksi untuk November. Perkembangan ini tidak hanya memengaruhi dinamika pasar energi global, tetapi juga memberikan tekanan pada mata uang rupiah dan berpotensi memicu inflasi di berbagai negara.

Harga Minyak Konsolidasi di Atas US$100

Minyak mentah Brent (internasional) pada 5 Oktober 2026 diperdagangkan stabil di kisaran US$102,25 hingga US$102,87 per barel, menunjukkan kenaikan terbatas 0,39% hingga 0,46% hari ini. Angka ini menandai lonjakan signifikan, naik 7,05% dalam sebulan terakhir dan 58,45% secara tahunan. Sementara itu, WTI Crude (AS) sedikit terkoreksi antara US$91,00 hingga US$99,17 per barel, dengan penurunan 0,33% sampai 1,13%.

Kenaikan harga minyak telah mendorong harga diesel mencapai rekor tertinggi di pompa bensin AS dan global, menandakan krisis di sektor hilir energi. Kenaikan harga minyak mentah secara drastis ini tak lepas dari memanasnya situasi geopolitik.

Konflik Yaman dan Bab el-Mandeb Jadi Ancaman Jalur Migas

Ketegangan antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan Arab Saudi terus meningkat. Pasukan yang didukung Saudi meluncurkan operasi militer skala penuh di Yaman untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi. Kondisi ini menjadi sorotan karena Houthi menguasai seluruh pantai Laut Merah Yaman dan Selat Bab el-Mandeb.

Bab el-Mandeb merupakan titik vital jalur pengiriman minyak strategis yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden. Jalur ini penting bagi Arab Saudi sebagai alternatif ekspor minyak tanpa melewati Selat Hormuz, terutama setelah Hormuz ditutup sejak Maret 2026 akibat konflik AS-Israel versus Iran yang berlangsung tujuh bulan.

Serangan terbaru memperburuk situasi. Pada 3 Oktober, Houthi mengklaim menyerang fasilitas minyak Saudi Aramco di selatan Riyadh dengan rudal balistik dan drone, menyebabkan kebakaran. Sebelumnya, 11 September, pipa Timur-Barat, jalur utama ekspor Saudi, diserang dan sempat ditutup. Akhir pekan lalu, Houthi juga mengklaim menyerang target “sensitif” di Riyadh dan fasilitas Aramco di Yanbu, kota pesisir Laut Merah yang merupakan pusat ekspor penting Saudi. Houthi bahkan mengumumkan blokade terhadap kapal-kapal Saudi, meningkatkan premi asuransi dan risiko logistik global.

OPEC+ Tahan Kuota, G7 Lepas Cadangan Darurat

Di tengah ketidakpastian pasokan, aliansi produsen minyak OPEC+ pada Minggu (4/10/2026) sepakat menahan kuota produksi November 2026 tanpa perubahan. Keputusan ini, yang difinalisasi melalui konferensi video, sejalan dengan sinyal OPEC+ sebelumnya untuk menghentikan kenaikan kuota lebih lanjut hingga akhir 2026.

Sebagai respons terhadap tekanan pasokan, rekor harga diesel, dan harga minyak di atas US$100, negara-negara G7 (AS, Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Kanada, Jepang) mengumumkan rencana pelepasan cadangan darurat hingga 100 juta barel minyak mentah dan diesel. Langkah ini bertujuan meredam lonjakan harga, menstabilkan pasar, dan menjaga inflasi global. Inflasi global 2026 diperkirakan mencapai 4,7%, naik dari proyeksi April, sementara pertumbuhan global dipangkas menjadi 3% (IMF) dan 2,5% (Bank Dunia), bahkan bisa anjlok hingga 1,3% dalam skenario terburuk.

Dampak ke Indonesia: Rupiah Melemah, Harga BBM Stabil

Gejolak pasar energi global juga berdampak pada Indonesia. Pada Senin (5/10/2026), nilai tukar rupiah melemah 21 poin atau 0,12% ke posisi Rp17.903 per dolar AS dari Rp17.882. Pelemahan ini dipicu oleh melonjaknya harga minyak mentah, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menjadi 5,26%, dan penguatan indeks dolar AS (DXY) ke level 101,9.

Kendati demikian, PT Pertamina memutuskan untuk menahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia meskipun harga minyak mentah global melampaui US$100 per barel. Harga Pertamax (RON 92) tetap di Rp15.950 di Jawa, Pertamax Green 95 di Rp19.150, Pertamax Turbo (RON 98) di Rp19.600 di Jawa, Dexlite di Rp23.700 di Jawa, dan Pertamina Dex di Rp25.200 di Jawa. Pihak Shell, Vivo, dan BP juga kompak tidak menaikkan harga BBM mereka.

Pasar masih memantau proyeksi analis terkait potensi kenaikan lebih lanjut. Ibrahim Assuaibi menyatakan harga minyak mentah masih cukup tinggi dan bisa melompat ke US$102,50, terutama dengan memanasnya geopolitik di Laut Merah dan Bab el-Mandeb, serta ancaman penutupan total Hormuz. TradingView juga memprediksi Brent berpotensi menembus US$102,50.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair