PANGKALPINANG — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali memicu perubahan drastis pada topografi kawasan sekitar setelah rangkaian erupsi dahsyat yang terjadi pada September 2026.
Selain memperluas daratan utama gunung api tersebut, aktivitas vulkanik ini juga memunculkan dua formasi daratan baru di sekelilingnya yang memicu tanda tanya besar apakah keduanya akan menjelma menjadi pulau baru.
Bagi masyarakat di pesisir Kepulauan Bangka Belitung dan wilayah Sumatera bagian selatan, aktivitas Anak Krakatau selalu menjadi perhatian serius karena dampaknya yang kerap meluas. Erupsi kali ini bahkan sempat melumpuhkan jalur udara regional akibat sebaran abu vulkanik yang pekat.
Berdasarkan data citra satelit, perubahan bentang alam ini terlihat sangat signifikan dibandingkan kondisi sebelum erupsi pada bulan Agustus lalu.
Kronologi Erupsi dan Perubahan Bentuk Fisik
Perubahan besar ini bermula ketika Anak Krakatau mulai memasuki fase erupsi pada 4 September 2026. Aktivitas vulkanik tersebut berlangsung intens selama kurang lebih 25 jam hingga akhirnya mereda pada 6 September 2026. Selama periode itu, gunung api ini memuntahkan lava yang mengalir deras ke tiga arah utama, yaitu barat laut, barat, dan barat daya.
Dampak langsung dari muntahan material vulkanik tersebut sangat masif. Aliran lava yang mendingin di pesisir secara bertahap membentuk endapan baru yang memperluas daratan. Berdasarkan perbandingan citra satelit yang diambil pada 8 Agustus 2026 dengan citra satelit tanggal 15 September 2026, luas daratan utama Anak Krakatau telah bertambah sekitar 33 hektare atau setara dengan 81 acre.
Dampak erupsi ini juga meluas hingga ke sektor transportasi udara nasional. Abu vulkanik yang membubung tinggi terbawa angin hingga menyelimuti langit Jakarta dan sekitarnya. Akibatnya, sejumlah bandara terpaksa ditutup demi keselamatan penerbangan.
Tercatat sebanyak 2.961 penerbangan mengalami pembatalan, keterlambatan, atau dialihkan rutenya, yang berujung pada terganggunya perjalanan lebih dari 340.000 penumpang pesawat.
Deteksi Dua Daratan Baru di Selat Sunda
Fenomena paling menarik pasca-erupsi teramati melalui citra satelit Sentinel-2 pada 20 September 2026. Satelit mendeteksi adanya dua formasi daratan baru yang terpisah dari tubuh utama Gunung Anak Krakatau. Kedua daratan ini muncul di dua sisi yang saling berlawanan dari pusat kawah aktif.
Formasi daratan pertama terdeteksi berada di sebelah barat laut, berjarak sekitar 760 meter dari garis pantai Anak Krakatau. Sementara itu, formasi daratan kedua muncul di sisi tenggara, dengan jarak sekitar 495 meter dari kaki gunung.
Meskipun beberapa laporan awal sempat menyebut kedua formasi tersebut sebagai pulau baru, para ahli geologi dan vulkanologi bersikap sangat hati-hati.
Mereka menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah kedua daratan hasil endapan material vulkanik ini akan bertahan secara permanen sebagai pulau baru.
Ada kemungkinan besar daratan tersebut akan kembali terkikis dan lenyap akibat hantaman ombak, arus pasang surut air laut, serta proses erosi alami di Selat Sunda yang terkenal cukup kuat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.