Jumat, 25 September 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Sempat Runtuh 2018, Gunung Anak Krakatau Kini Tumbuh Lagi

Sempat Runtuh 2018, Gunung Anak Krakatau Kini Tumbuh Lagi
Gunung Anak Krakatau terus membangun tubuhnya melalui aktivitas erupsi berkelanjutan sejak 2019. (Ilustrasi: Volcano

JAKARTA — Gunung Anak Krakatau sedang membangun dirinya kembali. Setelah sebagian besar tubuhnya runtuh ke laut pada Desember 2018, aktivitas erupsi yang berlanjut sejak peristiwa tersebut secara bertahap merekonstruksi gunung berapi ini dengan pola pertumbuhan yang unik dan berlapis.

Pakar dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani, menjelaskan bahwa Anak Krakatau merupakan sistem gunung api yang dinamis. Sejak muncul dari dasar laut pada akhir 1920-an, tubuhnya telah mengalami siklus panjang berupa pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali secara berulang.

Runtuhan Dahsyat dan Perubahan Drastis

Peristiwa 22 Desember 2018 menjadi titik balik. Erupsi besar-besaran menyebabkan sektor barat daya Anak Krakatau runtuh ke laut dengan volume material sekira 0,116 kilometer kubik. Kejadian itu menghilangkan sebagian besar tubuh gunung yang berada di atas permukaan laut, menurunkan ketinggian puncaknya dari sekitar 300 meter menjadi hanya 120 meter.

“Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali,” ujar Dini, seperti dikutip dari laman resmi BRIN, Senin (21/9).

Runtuhan itu tidak hanya mengubah wujud fisik. Hilangnya sebagian besar tubuh gunung secara tiba-tiba mengurangi tekanan pada saluran magma, sementara air laut masuk ke kawah yang terbuka.

Kombinasi kedua faktor ini mengubah sistem erupsi secara drastis — dari pola Strombolian (relatif stabil) bergeser menjadi Surtseyan yang jauh lebih eksplosif. Interaksi antara magma dan air laut juga mengubah bentuk morfologi kawah secara keseluruhan.

Fase Rekonstruksi: Dari 2019 Hingga Kini

Sejak 2019, Anak Krakatau memasuki fase rekonstruksi dan pertumbuhan kembali. Pola aktivitasnya berkembang bertahap: dimulai dari erupsi yang masih dipengaruhi interaksi air laut, kemudian berangsur menjadi erupsi Strombolian, lava fountain, dan aliran lava yang lebih teratur.

Material yang dihasilkan dari aktivitas erupsi tersebut secara bertahap membangun kerucut baru di dalam kawah pascakolaps. Salah satu jejak pertumbuhan terlihat jelas dari pembentukan lava pada 2020 yang menumpuk di atas sisa-sisa material dari runtuhan.

Halaman:123Semua Halaman

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 25 September 2026: Cara Cek NIK KTP Online