“Perbandingan morfologi sebelum dan setelah runtuhan 2018 menunjukkan perubahan yang sangat besar. Bentuk kerucut yang sebelumnya relatif tinggi berubah menjadi morfologi yang lebih rendah dan terbuka, kemudian secara bertahap dibangun kembali oleh aktivitas erupsi berikutnya,” jelas Dini.
Pertumbuhan Asimetris: Tantangan Stabilitas
Namun proses pemulihan ini tidak berlangsung merata. Penelitian BRIN mencatat bahwa pertumbuhan Anak Krakatau terjadi secara asimetris — artinya tidak seimbang di semua sisi.
Gunung api ini berdiri di tepi kaldera bawah laut dengan kondisi dasar yang berbeda pada setiap sektor. Sektor barat daya berkembang di atas lereng kaldera yang lebih curam, sementara bagian timur laut bertumpu pada dasar laut yang relatif lebih dangkal. Perbedaan kondisi geografis ini menyebabkan kedua sektor memiliki karakter kestabilan yang berbeda-beda.
Tubuh Anak Krakatau juga tersusun dari material dengan sifat fisik yang berlapis. Pada fase awal pertumbuhan, interaksi magma dengan air laut menghasilkan endapan tuf yang relatif ringan dan berpori. Setelah sekitar 1960, ketika aktivitas lebih didominasi erupsi Strombolian-Vulcanian, lava yang lebih padat mulai menumpuk di atas lapisan tuf yang lebih ringan tersebut.
Penumpukan material lava yang lebih berat di atas endapan yang lebih ringan, dikombinasikan dengan posisi sektor barat daya yang berada di lereng curam, secara bertahap meningkatkan beban tubuh gunung. Kondisi ini berkaitan langsung dengan ketidakstabilan lereng — aspek penting dalam memahami mengapa runtuhan 2018 bisa terjadi dan bagaimana gunung ini akan terus berkembang.
Daratan Baru: Akumulasi Material Vulkanik
Pasca-erupsi besar, fenomena menarik lainnya terjadi: daratan baru terpantau muncul di perairan sekitar Anak Krakatau. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa daratan tersebut bukan gunung api independen, melainkan murni akumulasi endapan material vulkanik.
“Daratan ini terbentuk dari penumpukan material sisa erupsi seperti abu, batuan, dan lava yang mengendap secara bertahap di laut hingga akhirnya menyembul ke permukaan,” kata Daryono dalam keterangan tertulisnya, Kamis (24/9/2026).
Terbentuknya daratan di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung dipengaruhi kombinasi faktor geologis dan oseanografis. Dasar laut di area kaldera purba (sisa letusan 1883) tergolong dangkal, sehingga material lontaran piroklastik dan aliran lava cepat menumpuk.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.