JAKARTA — Pemerintah Indonesia tengah mematangkan langkah strategis untuk mengolah batu bara berkalori rendah menjadi bahan bakar minyak (BBM) atau campuran BBM. China disebut menjadi kandidat kuat sebagai mitra utama dalam transfer teknologi (ToT) untuk merealisasikan ambisi hilirisasi energi tersebut.
Ketua Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (Aspebindo), Anggawira, menyebut China memiliki keunggulan, khususnya dalam jalur konversi batu bara menjadi metanol. Proyek BUMI Group bahkan sudah memulai kerja sama teknik dengan CNCEC asal China.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kerja sama pembangunan pabrik tidak serta-merta menjamin terjadinya transfer pengetahuan secara menyeluruh kepada tenaga kerja lokal.
Pentingnya Penguasaan Teknologi Lokal
Transfer teknologi yang efektif harus mencakup kemampuan insinyur dalam negeri untuk mengoperasikan, melakukan perawatan, hingga meningkatkan efisiensi pabrik secara mandiri. Anggawira menyarankan agar aspek pelatihan, akses pengetahuan proses, serta keterlibatan industri dalam negeri dan perguruan tinggi sudah masuk dalam klausul kesepakatan sejak awal.
Strategi ini dianggap krusial agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar bagi teknologi asing. Kepastian usaha pun menjadi poin vital yang dituntut pelaku usaha. Pemerintah diharapkan menjamin kepastian pembeli melalui kontrak penyerapan jangka panjang, standar produk, serta formula harga yang layak agar proyek dapat memperoleh pembiayaan yang memadai.
Belajar dari Pengalaman
Hilirisasi batu bara sebenarnya bukan hal asing di kancah global. Chairman of the Mining and Mineral Committee of Apindo, Hendra Sinadia, menyoroti bahwa Tiongkok telah lebih dulu menguasai pemanfaatan batu bara menjadi metanol dan gas secara lanjut. Indonesia sendiri memiliki cadangan batu bara kalori rendah yang melimpah sebagai bahan baku utama, namun investasi yang dibutuhkan tergolong besar.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menekankan bahwa pemerintah terus mendorong hilirisasi ini, terutama di wilayah dengan cadangan besar seperti Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur. Proyek metanol di Kutai Timur, Kalimantan Timur, ditargetkan memproduksi 2 juta ton per tahun dengan potensi penghematan devisa hingga Rp 7,1 triliun.
Rencana ini menjadi respons langsung atas arahan Presiden Prabowo untuk menekan ketergantungan pada impor di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menambahkan bahwa optimalisasi potensi energi dalam negeri adalah prioritas untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Ke depannya, keberhasilan hilirisasi ini akan sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur, koordinasi perizinan, serta kemampuan Indonesia dalam mengadopsi teknologi canggih tersebut agar biaya produksi tetap kompetitif di pasar.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.