GUATEMALA CITY, JOURNALARTA.COM – Tim nasional Suriname kembali menjadi korban tindakan rasisme saat melakoni pertandingan Concacaf Nations League League A Grup B melawan Guatemala pada Senin, 5 Oktober 2026, di Cementos Progreso Stadium, Guatemala City. Insiden ini terjadi kurang dari 13 bulan setelah kejadian serupa menimpa mereka di El Salvador.
Suriname FA (SVB) dan media Amerika Serikat, USA Today, mengonfirmasi kejadian memalukan tersebut tak lama setelah laga berakhir. Penyerang Suriname, Richonell Margaret, menjadi sasaran utama pelecehan yang kemudian berujung pada kartu merah di menit ke-63.
Kronologi Rasisme dan Kartu Merah Margaret
Insiden bermula pada menit ke-63, ketika Richonell Margaret menguasai bola di sisi kiri lapangan. Saat itulah, menurut pengakuannya setelah pertandingan, seluruh penonton di stadion mulai meneriakkan suara-suara monyet (monkey noises) setiap kali ia menyentuh bola. Margaret yang emosi kemudian membalas ucapan para penggemar di tribun.
Wasit Joe Dickerson dari Amerika Serikat, yang sebelumnya telah membuat gestur “X” sebagai simbol anti-rasisme FIFA, langsung mengganjar Margaret dengan kartu merah langsung. Ini menuai kontroversi, mengingat Margaret adalah korban pelecehan. Keputusan wasit sempat memicu diskusi sengit dengan kapten Suriname, Myenty Abena, dan membuat pertandingan tertunda hampir 10 menit. Tim Suriname sempat berkumpul di depan bangku cadangan, mempertimbangkan untuk walk-off atau meninggalkan lapangan, namun akhirnya memilih untuk melanjutkan pertandingan dengan 10 pemain.
Kapten Myenty Abena, mantan pemain Spartak Moscow, mengungkapkan dilema yang dihadapinya. “Sebagai kapten, saya dihadapkan pada keputusan sulit: Apakah kami meninggalkan lapangan dan menerima konsekuensinya, ataukah kami melanjutkan dengan 10 pemain dan menolak membiarkan rasisme mengusir kami dari permainan yang kami cintai?” tulis Abena di akun Instagram-nya, seperti dikutip USA Today. Ia menegaskan, keputusan untuk melanjutkan bukan berarti mereka menerima insiden rasisme tersebut, melainkan demi kecintaan mereka pada sepak bola, negara, dan rekan setim.
Pertandingan berakhir dengan kemenangan tipis 1-0 untuk Guatemala berkat gol Matthew Evans di menit ke-90+6. Setelah peluit akhir, ketegangan memuncak. Kedua tim terlibat perkelahian fisik di tengah lapangan, memaksa polisi anti huru-hara turun tangan untuk memisahkan pemain, seperti yang direkam oleh AP Photo dan AFP.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.