Selasa, 6 Oktober 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Reka Ulang Pertempuran Hastings 1966 Terekam dalam Film Langka

Rekaman Pertempuran Hastings 1966 menampilkan mahasiswa berkostum di lapangan
Reka ulang Pertempuran Hastings pada 1966 mempertemukan mahasiswa Kent dan Sussex di dekat Battle. (Ilustrasi: AI)

Rekaman langka memperlihatkan duel pura-pura yang berubah menjadi saling dorong dan pukul antara mahasiswa Kent dan Sussex. English Heritage kini mengoleksi film berwarna dari reka ulang Pertempuran Hastings pada 1966, yang digelar di lokasi pertempuran bersejarah dekat Battle, East Sussex.

Acara pada 14 Oktober 1966 itu melibatkan 500 mahasiswa untuk menandai 900 tahun Pertempuran Hastings. Namun, kostum karung, senjata kayu berlapis cat perak, dan suasana yang jauh dari tertib membuat pertunjukan tersebut lebih mirip keributan sungguhan daripada adegan perang yang rapi.

Film berdurasi 12 menit itu direkam Alan Wootton atas undangan Dewan Kota Hastings. Rekaman tersebut baru diketahui English Heritage setelah putranya, Cliff Wootton, yang ikut membantu saat berusia 12 tahun, bercerita kepada seorang relawan di Battle Abbey bahwa ia menyimpan 300 gulungan film tentang acara itu.

Pertempuran Hastings 1966: duel yang memanas

Persaingan antara mahasiswa dari dua universitas itu rupanya tidak berhenti sebagai bagian dari sandiwara. Peter Sampson, mahasiswa baru Sussex yang ikut karena membayangkan hari menyenangkan dan bir gratis, mengenang pertemuan kedua kubu sebagai perkelahian besar.

“There was actually a lot of real pushing and shoving, a lot of fighting going on in there,” kata Sampson. Ia bercerita seorang temannya, John, terkena pukulan di kepala oleh ujung tombak palsu hingga wajahnya cukup sakit.

Keributan berlangsung sekitar 25 menit. Setelahnya, suasana mencair. Bir gratis yang dijanjikan ternyata tidak tersedia, jadi Sampson dan teman-temannya mengambil beberapa tong bir dari belakang tenda penyegaran. Mereka kemudian duduk bersama mahasiswa Kent di bawah matahari sore dan membicarakan kejadian hari itu.

Jauh dari rekonstruksi sejarah yang ketat. Tentara Inggris dalam acara itu mengenakan pakaian sederhana, sementara pedang dan kapak dibuat dari kayu serta papan keras yang dicat perak. Pasukan Norman bahkan terlambat sekitar 20 menit karena terjebak lalu lintas di jalan A27 dari Brighton, sehingga para peserta harus menunggu sebelum pertunjukan dimulai.

Dari film keluarga ke koleksi English Heritage

Cliff Wootton menemukan kesempatan untuk memperlihatkan koleksi ayahnya saat mengunjungi Battle Abbey, bangunan abad pertengahan yang berdiri di lokasi pertempuran dan kini dikelola English Heritage. Organisasi itu lalu memilih sebagian rekaman untuk disusun menjadi film pendek.

James Witcombe, pengelola lokasi Battle Abbey, mengatakan ia terkesan saat pertama kali melihatnya. “When Cliff showed me the footage, I was blown away by it, it was really, really impressive,” ujarnya.

Bagi Witcombe, rekaman itu menunjukkan acara yang dibuat para amatir dan dijalani dengan penuh kesenangan. Ia mengakui tontonan tersebut terasa berbeda jika dilihat dari sudut pandang masa kini, terutama karena batas keselamatan belum seperti yang diterapkan sekarang.

Perbedaan itu penting bagi pengunjung dan penyelenggara. Reka ulang sejarah tetap menawarkan pengalaman yang meriah, tetapi benturan fisik dalam film lama memperlihatkan mengapa batas keselamatan perlu dijaga agar peserta tidak terluka.

Witcombe mengatakan English Heritage ingin mempertahankan suasana akrab dan semangat bermain, sembari memastikan acara berlangsung dengan pengamanan yang lebih baik.

Reka ulang kini lebih ketat soal detail sejarah

Acara yang bermula dari pertunjukan mahasiswa itu kemudian berkembang menjadi agenda tahunan yang menarik ribuan pengunjung. Penonton masa kini masih kerap mendukung kubu setempat, meski Witcombe menilai suasananya tidak separtisan dulu.

Menurut Witcombe, para peserta reka ulang masa kini memberi perhatian lebih besar pada keaslian kostum dan praktik sejarah. Mereka juga menggunakan pendekatan arkeologi eksperimental: mencoba pengalaman langsung untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan pada masa lampau.

English Heritage memperkirakan 1.000 peserta akan ikut dalam acara tahun ini. Pertunjukan penuh dijadwalkan berlangsung setiap hari pada 10 dan 11 Oktober, dengan hasil cerita tetap mengikuti sejarah, bukan berubah demi penonton yang mendukung Inggris.

Minat pada sejarah Norman juga meningkat, menurut laporan sumber, seiring kehadiran Permadani Bayeux di London. English Heritage berharap jumlah pengunjung akan besar dan mengundang orang-orang yang terlibat dalam acara pertama pada 1966 untuk datang kembali.

Kenangan Sampson menutup kisah itu dengan nada yang lebih hangat daripada keributan di lapangan: “We cracked them open and then sat down with the Kent lads and lasses, and in the warm afternoon sunshine, just discussed the events of the day. So it became very friendly at the end of the day.”

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kalender Jawa Hari Ini 6 Oktober 2026: Weton, Pasaran, Neptu & Karakter Karir