Selasa, 6 Oktober 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Investasi Pusat Data AI Jepang Bisa Tembus US$140 Miliar

Pusat data AI Jepang dan pembangkit listrik dekat Tokyo
Rencana fasilitas komputasi AI dekat Tokyo akan menggabungkan pusat data dan pasokan listrik. (Ilustrasi: AI)

TOKYO — Rencana pusat data AI Jepang dapat memperbesar kebutuhan listrik untuk komputasi sekaligus mengurangi ketergantungan proyek baru pada jaringan listrik nasional. Dell, Apollo, dan Jera berencana membangun fasilitas komputasi berkapasitas 3–4 gigawatt di Jepang dan negara Asia lain dalam lima tahun ke depan, dengan investasi yang berpotensi mencapai US$140 miliar.

Proyek pertama direncanakan di dekat Tokyo. Fasilitas berkapasitas 400 megawatt itu diperkirakan menelan biaya US$15 miliar dan mulai beroperasi sekitar 2028. Rencana tersebut menggabungkan pembangunan pusat data dengan pembangkit listrik berbahan bakar gas.

Pusat data AI Jepang mengejar pasokan listrik

Para mitra ingin menautkan pasokan listrik langsung dengan fasilitas komputasi, alih-alih mengandalkan sepenuhnya jaringan nasional. Rincian kapasitas pembangkit untuk proyek dekat Tokyo belum diumumkan, tetapi pengaturan mandiri itu dirancang sebagai bagian dari upaya mempercepat pembangunan.

“Kata kuncinya adalah kecepatan mendapatkan pasokan listrik. Jika melihat Asia di luar China, Jepang adalah pasar pusat data utama,” kata Yukio Kani, kepala eksekutif global Jera.

Jera memperdagangkan 35 juta ton LNG per tahun. Menurut Kani, volume perdagangan itu dapat mendukung pembangkit yang memasok listrik ke fasilitas komputasi dalam proyek-proyek yang direncanakan. Namun, rencana tersebut tetap bergantung pada pembangunan pembangkit dan pusat data secara bersamaan dalam lima tahun.

Pembagian peran para mitra mencerminkan skala proyek. Apollo akan membiayai fasilitas awal senilai US$15 miliar, sementara Dell dan Jera menyumbangkan kemampuan di bidang teknologi dan infrastruktur energi. Perusahaan-perusahaan itu juga ingin menyeragamkan metode pembangunan pusat data dan fasilitas listrik agar pendekatan serupa dapat diterapkan di lokasi lain.

Kesenjangan kapasitas dengan AS dan China

Skala rencana itu menonjol jika dibandingkan dengan konsumsi listrik pusat data Jepang saat ini. International Data Center Authority mencatat pusat data di Jepang menggunakan 1,7 gigawatt listrik. Angka yang disebut dalam bahan sumber itu setara sekitar 2,5 persen dari konsumsi global.

Sebagai pembanding, pusat data Amerika Serikat menggunakan 29,2 gigawatt atau 43 persen dari konsumsi global, sedangkan China menggunakan 8,5 gigawatt. Rencana kapasitas 3–4 gigawatt dari kemitraan Dell, Apollo, dan Jera akan menjadi tambahan besar bagi pasar Jepang jika proyek-proyeknya terlaksana.

Dampaknya tidak berhenti pada industri teknologi. Pusat data AI membutuhkan pasokan listrik besar dan stabil untuk menjalankan komputasi.

Dengan membangun pembangkit bersamaan dengan fasilitas komputasi, para mitra mencoba mengatasi kebutuhan energi sebagai bagian langsung dari pembangunan—bukan menunggu jaringan yang ada menyesuaikan diri.

Namun, sumber belum menjelaskan kapasitas pembangkit yang akan menyuplai proyek pertama ataupun bagaimana sistem mandiri itu akan beroperasi secara terperinci.

Untuk kawasan Asia, proyek itu juga menunjukkan bahwa ekspansi AI tidak hanya ditentukan oleh pembangunan server. Ketersediaan energi dan kecepatan penyediaannya ikut menentukan lokasi fasilitas komputasi. Para mitra menyatakan ambisinya melampaui Jepang, tetapi belum merinci lokasi pengembangan berikutnya.

Investasi strategis dan target perluasan

Rencana perusahaan berjalan beriringan dengan dorongan pemerintah Jepang untuk menarik investasi ke sektor yang dianggap strategis. Pemerintah menargetkan ¥32,7 triliun, setara US$206 miliar, dalam investasi publik dan swasta hingga 2035. Cloud computing dan infrastruktur pusat data termasuk bidang yang masuk dalam program tersebut.

Jepang juga memiliki operator besar seperti NTT Data dan SoftBank. Sementara itu, Blackstone telah mengumumkan program ekspansi terpisah senilai US$30 miliar dalam beberapa tahun mendatang. Kehadiran sejumlah rencana investasi memperlihatkan persaingan membangun infrastruktur komputasi, meskipun angka-angka tersebut merujuk pada proyek dan perusahaan yang berbeda.

Perkiraan biaya program Dell, Apollo, dan Jera mencapai US$35 miliar hingga US$45 miliar untuk setiap gigawatt. Jika kapasitas yang direncanakan mencapai 4 gigawatt, total investasi berpotensi mendekati US$140 miliar. Nilai akhirnya akan bergantung pada kapasitas yang benar-benar dibangun dan pelaksanaan proyek-proyek pendukungnya.

Fasilitas dekat Tokyo diperkirakan menjadi salah satu proyek komputasi AI terbesar di Asia di luar China saat mulai beroperasi. Untuk saat ini, jadwal sekitar 2028 dan rencana pembangunan lima tahun menjadi tolok ukur berikutnya bagi kemitraan tersebut.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 6 Oktober 2026: Klaim Pack & Coins Gratis