Rabu, 7 Oktober 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Riset Suplemen Kolagen untuk Kulit Dinilai Penuh Celah

Suplemen kolagen dalam bubuk dan minuman untuk kesehatan kulit
Telaah peneliti menilai bukti manfaat suplemen kolagen untuk penuaan kulit masih memiliki banyak keterbatasan. (Ilustrasi: AI)

DUBLIN — Riset suplemen kolagen untuk penuaan kulit dinilai masih rapuh dan penuh celah, menurut telaah yang diterbitkan dalam Journal of Cosmetic Dermatology. Dua peneliti menemukan kekeliruan dalam sejumlah analisis terdahulu, termasuk hasil yang tidak signifikan tetapi dilaporkan seolah-olah signifikan.

Temuan itu penting bagi konsumen yang mengandalkan bubuk atau minuman kolagen untuk menjaga kulit. Setelah memperbaiki data dari dua meta-analisis, para peneliti tidak menemukan hubungan signifikan antara dosis kolagen dan perbaikan hidrasi maupun elastisitas kulit.

Analisis suplemen kolagen menemukan masalah statistik

Telaah tersebut ditulis biostatistikawan David Robert Grimes dari Trinity College Dublin, Irlandia, bersama dermatolog Anjali Mahto yang berbasis di Inggris. Mereka meninjau dua meta-analisis yang terbit pada 2021 dan 2023, lalu mengidentifikasi masalah dalam cara sejumlah hasil penelitian diolah.

Salah satu masalahnya adalah penggunaan ukuran statistik yang keliru. Dalam satu meta-analisis, hasil yang seharusnya tidak signifikan dilaporkan sebagai signifikan. Setelah data itu dikoreksi, Grimes dan Mahto tidak menemukan bukti hubungan berarti antara banyaknya kolagen yang dikonsumsi dengan perubahan hidrasi atau elastisitas kulit.

“Meskipun popularitas suplemen kolagen terhidrolisis sebagai intervensi untuk penuaan kulit terus meningkat, dasar bukti klinis saat ini masih rapuh secara metodologis, tidak konsisten, dan rentan terhadap bias,” tulis Grimes dan Mahto.

Mereka tidak menyatakan kolagen pasti tidak memiliki peran dalam dermatologi. Namun, menurut keduanya, promosi kolagen sebagai intervensi anti-penuaan yang telah terbukti masih terlalu dini dan belum dapat dibenarkan secara ilmiah.

Mengapa bukti manfaat kolagen belum meyakinkan

Sejumlah penelitian sebelumnya memang mengaitkan suplemen kolagen dengan peningkatan elastisitas dan hidrasi kulit. Beberapa hasil juga menunjukkan perbaikan lebih besar setelah penggunaan yang lebih lama. Namun, Grimes dan Mahto menilai kesimpulan optimistis itu perlu dibaca dengan hati-hati karena mutu penelitian yang mendasarinya beragam.

Banyak studi dalam meta-analisis didanai industri atau melibatkan penulis yang memiliki hubungan komersial dengan produsen kolagen. Kondisi itu tidak otomatis membatalkan temuan, tetapi menjadi alasan untuk menilai hasilnya secara cermat, terutama ketika bukti independen berkualitas tinggi masih terbatas.

Ukuran dan rancangan uji klinis juga berbeda-beda. Penelitian melibatkan kelompok usia yang tidak sama, memakai dosis harian beragam, dan berlangsung dalam durasi berbeda. Dalam salah satu meta-analisis yang ditinjau, dosis kolagen berkisar dari 0,3 hingga 10 gram per hari—selisih lebih dari 30 kali lipat.

Perbedaan sebesar itu menyulitkan perbandingan langsung. Sebagian uji juga menggabungkan kolagen dengan bahan bioaktif lain. Jika kondisi kulit berubah, peneliti jadi lebih sulit memastikan apakah perubahan itu berasal dari kolagen atau bahan tambahan.

“Penyertaan agen aktif lain bersama kolagen dapat memengaruhi hidrasi, elastisitas, atau tampilan kulit, baik secara positif maupun negatif,” jelas Grimes dan Mahto. Mereka menilai analisis terdahulu belum cukup memperhitungkan keterbatasan tersebut.

Suplemen kolagen belum layak jadi perawatan rutin

Kolagen terhidrolisis dipecah menjadi peptida agar lebih mudah larut dan kemungkinan lebih mudah dicerna. Namun, pertanyaan pentingnya belum terjawab: seberapa banyak bahan yang dikonsumsi benar-benar mencapai kulit dan memberi efek yang dijanjikan? Sejumlah penelitian pada hewan memberi petunjuk, tetapi riset pada manusia masih kurang.

Uji acak yang tersedia juga umumnya berlangsung singkat, sekitar 8 hingga 12 minggu. Desain plasebo menjadi tantangan lain. Kolagen memiliki rasa dan tekstur khas; jika peserta dapat membedakan produk yang mereka konsumsi, mereka mungkin mengetahui apakah mendapat kolagen atau plasebo. Itu dapat melemahkan hasil uji.

Bagi konsumen, celah bukti ini berarti klaim pemasaran belum tentu setara dengan manfaat yang sudah teruji secara kuat.

Produk kolagen semakin sering dipromosikan untuk kesehatan kulit, sementara dokter kulit, menurut Mahto, semakin banyak menghadapi pasien yang memakai atau bertanya tentang suplemen tersebut.

Karena itu, keputusan membeli sebaiknya tidak hanya bertumpu pada popularitas produk atau promosi figur publik.

Grimes dan Mahto menyarankan agar suplemen kolagen belum dimasukkan ke dalam perawatan dermatologi rutin sampai tersedia uji yang lebih ketat.

Mereka juga meminta asosiasi dermatologi nasional, termasuk British Association of Dermatologists dan European Academy of Dermatology and Venereology, serta regulator terkait mempertimbangkan panduan agar klinisi tidak mendukung penggunaannya untuk penuaan kulit tanpa bukti independen berkualitas tinggi.

Untuk saat ini, penilaian manfaat kolagen masih menunggu penelitian yang lebih kuat dan lebih independen. Sampai bukti semacam itu tersedia, para peneliti menilai rekomendasi klinis untuk suplemen kolagen belum memiliki dasar yang memadai.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kalender Jawa Hari Ini 7 Oktober 2026: Weton, Pasaran, Neptu & Karakter Karir