Kamis, 8 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

IHSG Diproyeksi Melemah ke 6.016, Keputusan FTSE Belum Jadi Katalis Positif

IHSG Diproyeksi Melemah ke 6.016, Keputusan FTSE Belum Jadi Katalis Positif
Pelaku pasar mencermati proyeksi IHSG dan sentimen global

JAKARTA — Tekanan terhadap IHSG berpotensi berlanjut pada perdagangan Kamis (8/10), sehingga keputusan FTSE Russell mempertahankan status Indonesia belum cukup untuk mendorong pembalikan arus dana asing. Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan indeks bergerak pada rentang 6.016-5.973 saat pembukaan perdagangan.

Proyeksi itu muncul setelah IHSG ditutup turun 46,2 poin atau 0,74 persen ke level 6.146,72 pada Rabu (7/10). Pasar masih mencermati tekanan dari luar negeri, pergerakan rupiah, serta aliran modal asing.

Tekanan global membayangi IHSG

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta menyebut sentimen perdagangan cenderung beragam dengan bias berhati-hati. Ia menyoroti risalah FOMC September yang memuat pandangan mayoritas pembuat kebijakan bahwa satu kali kenaikan Fed Funds Rate kemungkinan masih diperlukan hingga akhir tahun.

Pesan itu menjaga perhatian investor pada arah suku bunga Amerika Serikat. Jika kebijakan moneter tetap ketat, ruang pelonggaran bagi bank sentral dunia dapat terbatas, sementara aset berisiko seperti saham menghadapi tekanan.

Risiko terasa nyata.

Yield Treasury 10 tahun naik 0,34 persen menjadi 5,286 persen. Pada saat yang sama, harga minyak Brent meningkat 0,33 persen ke USD 101,29 per barel.

“Kombinasi yield obligasi yang tinggi dan energi yang mahal berpotensi mempertahankan tekanan inflasi, sehingga dapat membatasi ruang bagi bank sentral dunia untuk melonggarkan kebijakan moneter,” jelas Nafan.

Keputusan FTSE belum mengubah arus dana

Di dalam negeri, rupiah dan arus dana asing menjadi indikator yang dicermati. Rupiah sempat menguat 0,07 persen ke Rp 17.887 per dolar AS pada Rabu (7/10), tetapi penguatan dolar dan tingginya yield Treasury masih menjadi risiko bagi stabilitas mata uang.

FTSE Russell mempertahankan Indonesia sebagai Secondary Emerging Market dan tidak memasukkannya ke dalam watchlist. Nafan menilai keputusan itu positif bagi stabilitas pasar modal, tetapi dampaknya belum cukup kuat untuk membalikkan aliran dana asing.

Bagi investor domestik, perkembangan tersebut berarti sentimen positif dari FTSE belum menghapus tekanan eksternal. Pergerakan rupiah, suku bunga global, dan harga energi masih dapat memengaruhi selera risiko serta arah transaksi di pasar saham Indonesia.

Proyeksi berbeda, rentang tetap jadi perhatian

MNC Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak bervariasi pada Kamis. Dalam skenario koreksi, indeks diperkirakan berada di rentang 6.118-6.141, sedangkan skenario penguatan menempatkannya pada kisaran 6.342-6.430.

“Adapun area koreksi terdekat berikutnya berada di 6.118-6.141. Namun demikian, pada label merah IHSG akan menguji area 6.342-6.430 sekaligus cluster MA20 dan MA60,” tulis MNC Sekuritas dalam keterangannya.

Rentang dari kedua sekuritas menunjukkan pasar masih menghadapi beberapa kemungkinan, bukan arah yang sudah pasti. Perbedaan proyeksi juga menegaskan pentingnya mencermati perkembangan indeks dan faktor yang memengaruhinya selama perdagangan.

Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan saham AMMN, RAJA, dan TLKM. MNC Sekuritas menyebut BIPI, DEWA, HRTA, dan TLKM sebagai saham yang direkomendasikan untuk perdagangan Kamis (8/10).

Rekomendasi sekuritas bukan kepastian hasil dan bukan ajakan transaksi. Keputusan investasi tetap berada pada masing-masing pembaca. Pergerakan rupiah, arus dana asing, dan respons pasar terhadap sentimen global akan menjadi hal yang dicermati pada perdagangan berikutnya.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair