Jumat, 9 Oktober 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Pemasok Air Bersih Bisa Kecipratan Untung Investasi Data Center

Investasi data center dan jaringan pemasok air bersih Indonesia
Infrastruktur air dan sistem pendinginan menjadi bagian penting dalam pengembangan data center. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Pemasok air bersih bisa mendapat peluang usaha dari investasi data center, selama kebutuhan industri tidak mengurangi akses air masyarakat. Direktur Utama Perumda Air Minum Gapura Tirta Rahayu, Riana Afriadi, mengatakan pelanggan industri dapat menambah pendapatan perusahaan air dan membantu membiayai penguatan layanan.

Peluang itu muncul saat penggunaan layanan berbasis kecerdasan buatan (AI) tumbuh di Indonesia. Laporan e-Conomy SEA 2025 mencatat 80% pengguna digital di Indonesia memakai layanan AI setiap hari, sedangkan pendapatan aplikasi berbasis AI meningkat 127% dalam setahun, tertinggi di Asia Tenggara.

Kebutuhan komputasi yang menyertainya membuat data center ikut menjadi bagian penting dari pertumbuhan ekonomi digital.

Namun, fasilitas digital berskala besar juga membutuhkan air, antara lain untuk sistem pendinginan. Pertanyaan bagi pemerintah dan penyedia layanan bukan sekadar apakah air tersedia, melainkan dari sumber mana air diambil, bagaimana pembagiannya, dan apakah infrastruktur mampu mengolah serta menyalurkannya.

Investasi data center dan peluang pemasok air

Riana menilai sumber air yang melimpah belum cukup jika kemampuan pengolahan dan distribusi tertinggal. Keterbatasan jaringan atau kapasitas produksi dapat membuat potensi sumber air sulit dimanfaatkan, termasuk untuk kebutuhan pelanggan industri.

“Indonesia perlu memastikan kebutuhan air untuk infrastruktur tersebut dapat dipenuhi tanpa mengurangi akses masyarakat, sekaligus dikelola secara efisien dan berkelanjutan,” kata Riana dalam keterangan resmi, Kamis (8/10/2026).

Bagi perusahaan air minum, pelanggan industri dapat memberi pemasukan tambahan. Dana itu berpeluang dipakai untuk memperbarui infrastruktur, meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat jaringan perpipaan, serta memperluas cakupan layanan. Dengan pengelolaan yang tepat, permintaan industri dapat ikut menopang sistem air yang juga dibutuhkan rumah tangga.

Riana mengatakan kebutuhan industri tidak otomatis mengambil jatah air yang sama dengan masyarakat. Dampaknya bergantung pada sumber air baku, pembagian alokasi, kemampuan pengolahan, serta cara distribusi di setiap wilayah. Kondisinya tidak seragam.

Karena itu, keputusan pasokan perlu bertolak dari kapasitas dan kebutuhan lokal, bukan anggapan bahwa setiap data center langsung mengurangi air rumah tangga.

“Kehadiran data center tidak semata-mata kami lihat sebagai tambahan kebutuhan air. Kita melihatnya sebagai sebuah kesempatan,” ujarnya.

Alokasi air dan teknologi pendinginan perlu dihitung

Purwakarta memberi contoh bagaimana kapasitas yang tersedia dapat dipertimbangkan untuk kebutuhan industri. Pemerintah daerah menjelaskan bahwa alokasi air baku bagi sistem penyediaan air minum di wilayah itu belum sepenuhnya digunakan. Sebagian kapasitas dapat diarahkan ke industri, sementara kebutuhan masyarakat tetap menjadi prioritas.

Contoh tersebut menempatkan tata kelola sebagai penentu. Pemeriksaan perlu mencakup ketersediaan air baku, kapasitas instalasi pengolahan, kondisi jaringan, serta kebutuhan warga. Tanpa gambaran yang utuh, besarnya kebutuhan data center saja tidak cukup untuk menilai dampaknya terhadap pasokan publik.

Teknologi pendinginan turut memengaruhi konsumsi air. Cooling tower dan evaporative cooling memakai air untuk membuang panas melalui penguapan. Pilihan lain, seperti air-cooled chiller, economizer, sistem closed-loop, dan dry cooling, dapat mengurangi ketergantungan pada air, bergantung pada rancangan serta kondisi fasilitas.

Penggunaan kembali air juga perlu masuk dalam perencanaan. Begitu pula keadaan musim di lokasi pembangunan. Rangkaian faktor itu menjelaskan mengapa konsumsi air tidak seharusnya dibaca sebagai satu angka yang berdiri sendiri: sumber pasokan, teknologi, proses pengolahan, dan pembagian pemanfaatan ikut menentukan tekanan nyata terhadap sistem air.

Bagi masyarakat, keputusan ini punya dampak langsung. Jika pasokan industri memakai kapasitas yang memang tersedia dan dikelola dengan pengawasan yang jelas, pendapatan dari pelanggan besar dapat membantu memperkuat jaringan layanan. Sebaliknya, apabila alokasi tidak transparan atau infrastruktur tidak memadai, pertumbuhan fasilitas digital berisiko menambah persaingan atas sumber daya yang sama.

Tata kelola wilayah menjadi dasar ekspansi

Pengembangan data center perlu mengikuti daya dukung tiap wilayah. Perencanaan harus memperhitungkan kebutuhan warga, ketersediaan sumber air, kapasitas infrastruktur, perubahan kondisi musim, dan teknologi pendinginan yang dipilih. Regulasi memberi dasar pengelolaan, sedangkan kepatuhan perusahaan menjadi prasyarat agar ekspansi tidak mengabaikan akses masyarakat.

Sudut pandang ini juga memperluas pembicaraan tentang investasi digital. Data center membutuhkan lebih dari sekadar lokasi dan kapasitas komputasi: layanan air dan energi ikut menentukan apakah operasinya dapat berjalan berkelanjutan. Bagi penyedia air, keterlibatan dalam perencanaan sejak awal membuka ruang untuk mencocokkan kebutuhan industri dengan kemampuan sistem setempat.

Anggota Dewan Energi Nasional Satya Yudha melihat peluang Indonesia pada hubungan antara infrastruktur digital, energi terbarukan, dan sumber daya air. Menurut dia, ketersediaan ketiganya dapat mendukung daya tarik pengembangan data center, asalkan kebutuhan air dikelola sesuai kondisi wilayah.

“Indonesia memiliki ruang untuk mengembangkan kombinasi antara infrastruktur digital, energi terbarukan, dan sumber daya air,” kata Satya.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 9 Oktober 2026: Klaim Pack & Coins Gratis