PATI — Insiden pengeroyokan di SRT 1 Pati menjadi bahan evaluasi Kemensos, setelah siswa berinisial D terluka akibat dituduh mencuri sabun cuci muka. Kementerian menyebut kejadian itu dipicu kesalahpahaman dan memastikan korban telah mendapat penanganan medis.
D, yang berusia 16 tahun, diduga dikeroyok 14 temannya dalam dua kejadian pada Selasa (29/9). Ia mengalami luka di pundak dan kepala; satu giginya dilaporkan copot dan satu lainnya patah. Korban masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Keluarga Sehat (KSH) Pati.
Pelaksana Tugas Kepala Pusdiklatbangprov Kementerian Sosial, Afrizon Tandjung, mengatakan sekolah dan orang tua sudah berkomunikasi untuk mencari jalan keluar. Kemensos juga menyatakan kejadian pengeroyokan di Sekolah Rakyat Mamuju, Sulawesi Barat, telah ditangani.
Kemensos evaluasi pengawasan SRT Pati
Afrizon menjelaskan, siswa Sekolah Rakyat datang dari keluarga dengan kebiasaan dan karakter berbeda. Ketika tinggal bersama di asrama dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, gesekan dapat muncul. Namun, ia menegaskan perbedaan latar belakang tidak membenarkan tindakan yang membuat siswa terluka.
“Ada kesalahpahaman di antara siswa yang memiliki kebiasaan dan latar belakang berbeda. Dalam interaksi antarsiswa terjadi kontak yang mengakibatkan adanya luka. Anak yang mengalami luka sudah mendapatkan penanganan dari tim medis,” kata Afrizon di Jakarta, Sabtu (10/10).
Menurut dia, sekolah telah bertemu dengan orang tua untuk membicarakan solusi dengan mengutamakan perlindungan dan masa depan anak. Penanganan itu berjalan bersamaan dengan evaluasi terhadap pendampingan siswa dan pengawasan di lingkungan asrama.
“Kejadian ini tentu menjadi bahan evaluasi sekaligus penguatan langkah-langkah pencegahan. Kami akan terus mencari jalan keluar, memperbaiki sistem pengawasan, dan meningkatkan kualitas pengasuhan agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.
Dampaknya langsung terasa pada rasa aman siswa dan keluarga yang menitipkan anak di sekolah berasrama. Pendampingan bukan hanya soal proses belajar; tenaga pendidik, wali asuh, dan wali asrama juga perlu mengenali masalah antarsiswa serta membantu mereka beradaptasi sebelum konflik berkembang menjadi kekerasan.
Pendampingan siswa jadi perhatian
Afrizon mengatakan Sekolah Rakyat juga menjadi tempat anak belajar hidup bersama, memahami perbedaan, dan membangun kebiasaan baru. Karena itu, para pendidik dan pengasuh didorong memperkuat pendampingan, sembari memastikan lingkungan sekolah tetap aman.
“Anak-anak ini sedang belajar hidup bersama, belajar memahami perbedaan, dan membangun kebiasaan baru. Tugas kita adalah membimbing mereka dengan sabar, sekaligus memastikan lingkungan sekolah tetap aman dan nyaman bagi semuanya,” kata Afrizon.
Ia juga meminta semua pihak menjaga privasi anak-anak yang terlibat. Kemensos menyatakan setiap anak perlu memperoleh perlindungan dan kesempatan melanjutkan pendidikan tanpa terus dibayangi kejadian tersebut.
Dalam konteks yang lebih luas, kebutuhan pendampingan siswa Sekolah Rakyat juga disinggung Menteri Sosial Saifullah Yusuf saat melepas kadet Universitas Pertahanan untuk mengabdi di sekolah-sekolah itu.
Menurut laporan JPNN dan Detik News, sebanyak 1.509 kadet dan personel Unhan diberangkatkan untuk bertugas selama dua minggu di 181 Sekolah Rakyat, dengan fokus pada pembentukan karakter dan kedisiplinan.
Program pendampingan tersebut memberi konteks atas tantangan kehidupan sekolah berasrama, tetapi tidak mengubah kewajiban sekolah untuk melindungi siswa dan menangani kekerasan. Kemensos menyatakan penguatan pengawasan serta kualitas pengasuhan akan menjadi bagian dari langkah pencegahan berikutnya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.