Minggu, 11 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

10 Daerah Penghasil Susu Segar Terbesar di RI, Masih Impor Triliunan

Peternakan sapi perah di sentra penghasil susu segar Indonesia
Produksi susu segar Indonesia masih didominasi provinsi di Pulau Jawa. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Produksi susu segar Indonesia mencapai 820.874,80 ton pada 2025, tetapi impor susu pada Januari-Juli 2026 sudah senilai Rp 12,12 triliun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi domestik mulai naik, namun pasokannya masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan belum mencukupi kebutuhan nasional.

Jawa Timur memimpin dengan produksi 475.394,90 ton, disusul Jawa Barat dan Jawa Tengah. Ketiga provinsi itu menyumbang sekitar 97,8% produksi susu segar Indonesia pada 2025, sementara Kementerian Pertanian menyebut produksi dalam negeri baru memenuhi sekitar 20% kebutuhan nasional.

Daerah penghasil susu segar masih terkonsentrasi di Jawa

Data BPS mencatat Jawa Timur sebagai produsen terbesar pada 2025 dengan 475.394,90 ton. Jumlah tersebut setara sekitar 57,9% dari produksi nasional. Jawa Barat berada di urutan berikutnya dengan 251.871,10 ton, sedangkan Jawa Tengah menghasilkan 75.336,85 ton.

Sumatera Utara menempati posisi keempat dengan produksi 6.267,49 ton. Jaraknya lebar dibandingkan tiga provinsi teratas. Angka itu menggambarkan betapa kuatnya ketergantungan produksi susu segar Indonesia pada sentra peternakan di Jawa.

Untuk setiap 100 ton susu segar yang diproduksi di Indonesia pada 2025, hampir 98 ton berasal dari Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Konsentrasi pasokan ini penting bagi industri pengolahan susu yang memerlukan bahan baku secara berkelanjutan.

Bahan sumber menyebut PT Sarihusada Generasi Mahardhika (SGM) dan Nestle Indonesia sebagai perusahaan yang menggantungkan pasokan dari wilayah Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Ketika produksi terkumpul pada wilayah terbatas, perubahan kapasitas peternakan di sentra-sentra tersebut dapat berpengaruh pada ketersediaan bahan baku industri.

Produksi naik, tetapi belum menyamai capaian 2021

Produksi susu segar nasional pada 2025 tumbuh 1,46% dibandingkan 2024, ketika produksi tercatat 809.038,70 ton. Kenaikan itu menjadi sinyal pemulihan, tetapi belum membawa produksi kembali ke titik tertinggi dalam rentang lima tahun yang disebut dalam data.

Pada 2021, Indonesia menghasilkan 946.388,17 ton susu segar. Produksi turun menjadi 824.273,20 ton pada 2022, lalu naik ke 837.223,20 ton pada 2023. Setahun kemudian, angkanya kembali terkoreksi sebelum meningkat lagi pada 2025.

Selisih produksi 2025 dengan capaian 2021 mencapai sekitar 125.513 ton. Jadi, pertumbuhan tahunan terbaru belum menghapus penurunan yang terjadi setelah produksi berada di level tertingginya.

Perubahan produksi itu juga berkaitan dengan kondisi peternakan sapi perah. BPS mencatat populasi sapi perah pada 2025 sebanyak 499.360 ekor, naik 1,79% dari 490.592 ekor pada 2024. Populasi mulai pulih setelah mencapai titik terendah 464.021 ekor pada 2023.

Namun, jumlah sapi perah pada 2025 masih 14,2% di bawah level 2021, yang mencapai 582.169 ekor. Pemulihan populasi dan produksi berjalan, tetapi keduanya belum kembali ke capaian sebelumnya. Itu tantangan di sisi hulu.

Impor susu sudah mencapai Rp 12,12 triliun

Kementerian Pertanian menyatakan produksi susu segar dalam negeri baru memenuhi sekitar 20% kebutuhan nasional. Pemerintah menargetkan penambahan sedikitnya 600 ribu ekor sapi perah indukan hingga 2029, menurut bahan sumber.

Kesenjangan antara produksi domestik dan kebutuhan membuat impor menjadi bagian penting dari pasokan. BPS mencatat impor susu Indonesia pada Januari-Juli 2026 mencapai 221.762 ton, dengan nilai US$ 678 juta atau sekitar Rp 12,12 triliun. Perhitungan rupiah dalam data sumber menggunakan kurs US$1- Rp 17.875.

Volume impor selama tujuh bulan pertama 2026 itu hampir menyamai volume impor sepanjang 2025, menurut bahan sumber. Kondisi ini menempatkan pemulihan produksi lokal dan rencana penambahan sapi indukan sebagai isu pasokan, bukan sekadar angka peternakan.

Bagi industri pengolahan, terbatasnya produksi lokal berarti bahan baku masih harus ditopang pasokan impor. Bagi konsumen, ketersediaan susu di pasar berkaitan dengan kemampuan rantai pasok memenuhi kebutuhan, sementara produsen dalam negeri perlu memperkuat kapasitas agar kontribusinya dapat meningkat.

Angka impor terbaru yang dicatat BPS mencapai 221.762 ton pada Januari-Juli 2026.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair