JAKARTA — IHSG diproyeksikan masih melemah pada perdagangan Rabu (14/10), meski peluang penguatan teknikal tetap terbuka. Tim riset BRI Danareksa dan analis Mirae Asset Sekuritas menyarankan sejumlah saham untuk dicermati, termasuk EMAS, PTBA, ADRO, ARCI, CTRA, dan ERAA.
Tim riset BRI Danareksa melihat candle terakhir membentuk hammer di area support 5.850–5.800. Pola ini membuka ruang rebound, tetapi indikator MACD masih menunjukkan momentum bearish. Penguatan indeks pun belum mendapat konfirmasi yang cukup.
“Jika support ditembus, IHSG berisiko melanjutkan pelemahan menuju 5.750, sementara resistance terdekat berada di 6.000–6.020,” tulis tim riset BRI Danareksa Sekuritas, dikutip Rabu (14/10).
IHSG menghadapi support penting dan sentimen global
Perbedaan pandangan teknikal tidak mengubah kewaspadaan analis terhadap tekanan pasar. Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai tekanan turun mulai terbatas setelah indeks mencapai area wave (X). Ia menempatkan 5.851 sebagai level support paling krusial.
Peluang rebound sementara terbuka, tetapi sinyal teknikal belum seragam. Nafan mengatakan Stochastics KD dan RSI masih menunjukkan sinyal negatif, sementara volume perdagangan mulai menurun.
“Namun berdasarkan indikator teknikal, Stochastics KD dan RSI masih menunjukkan sinyal negatif, sementara volume perdagangan mulai mengalami penurunan,” kata Nafan.
Ia menyebut IHSG masih berpeluang mengalami technical rebound selektif pada perdagangan 14/10. Namun tekanan jual belum sepenuhnya mereda, meski investor asing kembali mencatatkan net buy pada perdagangan sebelumnya. Kondisi itu membuat pemulihan indeks belum bisa diperlakukan sebagai pembalikan tren yang sudah terkonfirmasi.
Perhatian pasar juga tertuju pada data CPI Amerika Serikat untuk September. Bahan sumber menyebut konteks inflasi tahunan sebesar 3,6%, naik dari 3,4% pada Agustus. Jika data tersebut sesuai dengan ekspektasi yang disebutkan, dolar AS berpotensi menguat dan memberi tekanan pada rupiah serta aliran dana asing.
Perkembangan geopolitik dan sentimen MSCI turut menjadi faktor yang dicermati. Sebagai konteks, pemberitaan Kumparan pada 13 Oktober mengaitkan tekanan pasar dengan spekulasi penyesuaian bobot atau sanksi MSCI terhadap saham konglomerasi.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.