Bagi keluarga dan sekolah, dampak yang diharapkan tidak berhenti pada tersedianya makanan saat jam belajar. Jika anak mengenali ragam pangan dan memahami alasan memilih makanan bergizi, kebiasaan itu berpeluang terbawa ke rumah. Namun, pernyataan BGN dalam bahan ini belum merinci seberapa luas perubahan kebiasaan tersebut telah terjadi.
Guru dilibatkan untuk mengajarkan gizi seimbang
BGN juga memandang sekolah sebagai tempat untuk mengenalkan prinsip gizi seimbang. Sudaryono mengatakan guru dilibatkan dalam edukasi, bukan sekadar ditempatkan sebagai penerima makanan dalam program.
“Bukan kok kita ngasih makan gurunya bukan, tapi gurunya diberikan untuk dalam rangka edukasi gizi. Kenapa mesti ada serat, sayur, buah, kenapa mesti makan sayur, anak-anak kenapa nggak suka sayur harus suka sayur dan lain sebagainya,” jelasnya.
Penjelasan mengenai serat, sayur, dan buah dapat membantu murid memahami alasan makanan beragam disajikan. Peran guru menjadi penghubung antara makanan yang diterima di sekolah dan pengetahuan tentang pilihan pangan sehari-hari. Sudaryono berharap pemahaman itu tumbuh di lingkungan sekolah lalu terbawa ke keluarga.
Sudut ini membuat evaluasi MBG lebih luas daripada menghitung makanan yang dibagikan atau perubahan konsumsi protein. Program juga membawa tujuan pendidikan gizi, sementara perbedaan kondisi daerah menuntut capaian dibaca secara hati-hati. Dalam keterangan Sudaryono, angka siswa yang masih datang ke sekolah dalam keadaan lapar tercatat 14 persen.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.