Rabu, 14 Oktober 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Sudaryono: Konsumsi Protein Anak Naik Hampir 80% Berkat MBG

Sudaryono
Sudaryono

ACEH BESAR — Konsumsi protein anak disebut meningkat hingga hampir 80 persen sejak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyampaikan angka itu saat meninjau pembagian MBG di Aceh Besar, Selasa (13/10/2026).

Menurut Sudaryono, sebelum program berjalan konsumsi protein berada di kisaran 30 atau 40 persen. Ia juga mengatakan kini 14 persen siswa masih datang ke sekolah dalam keadaan lapar. Angka itu, ujarnya, perlu dilihat dengan mempertimbangkan kondisi peserta didik di berbagai daerah.

Konsumsi protein anak dan angka yang disampaikan BGN

Sudaryono menekankan bahwa MBG dirancang bukan hanya untuk menyediakan makanan bagi peserta didik. Program ini juga ditujukan untuk mendorong konsumsi protein dan membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini.

“Konsumsi protein itu dengan MBG ini di anak-anak juga jadi naik, kalau enggak salah dari 30 atau 40 persen, kemudian naik menjadi hampir 80 persen,” kata Sudaryono, seperti dikutip ANTARA dalam laporan dari Aceh Besar.

Angka tersebut menggambarkan perubahan konsumsi yang disampaikan Kepala BGN, bukan rincian hasil pengukuran yang dijelaskan dengan metode atau periode pembanding dalam bahan yang tersedia. Karena itu, konteks dan cara penghitungan penting saat angka program dibaca. Sudaryono sendiri menyampaikan perkiraan awalnya dengan frasa “kalau enggak salah”.

Ia juga menyebut persentase siswa yang datang ke sekolah dalam keadaan lapar berada di angka 14 persen. Keterangan itu memberi gambaran bahwa persoalan pemenuhan pangan di kalangan murid belum sepenuhnya hilang, sekalipun program makan telah berjalan.

Evaluasi MBG perlu melihat kondisi tiap daerah

Sudaryono mengingatkan agar kondisi anak di kota besar tidak dijadikan patokan tunggal untuk menilai kebutuhan peserta didik di seluruh Indonesia. Ketersediaan pangan dan tantangan gizi dapat berbeda antardaerah, sehingga penilaian program perlu membaca keadaan secara nasional.

“Kita tidak bisa mengukur keadaan siswa itu berdasarkan keadaan siswa yang ada di ibu kota atau di kota-kota besar. Ini secara agregat keseluruhan seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Pesan itu relevan bagi pelaksanaan MBG karena satu pola penyajian atau evaluasi belum tentu menggambarkan kebutuhan semua sekolah. Program perlu memperhatikan kondisi peserta didik di wilayah yang masih menghadapi tantangan pemenuhan gizi, sebagaimana disampaikan Sudaryono, bukan hanya melihat capaian di lokasi yang lebih mudah dijangkau.

Bagi keluarga dan sekolah, dampak yang diharapkan tidak berhenti pada tersedianya makanan saat jam belajar. Jika anak mengenali ragam pangan dan memahami alasan memilih makanan bergizi, kebiasaan itu berpeluang terbawa ke rumah. Namun, pernyataan BGN dalam bahan ini belum merinci seberapa luas perubahan kebiasaan tersebut telah terjadi.

Guru dilibatkan untuk mengajarkan gizi seimbang

BGN juga memandang sekolah sebagai tempat untuk mengenalkan prinsip gizi seimbang. Sudaryono mengatakan guru dilibatkan dalam edukasi, bukan sekadar ditempatkan sebagai penerima makanan dalam program.

“Bukan kok kita ngasih makan gurunya bukan, tapi gurunya diberikan untuk dalam rangka edukasi gizi. Kenapa mesti ada serat, sayur, buah, kenapa mesti makan sayur, anak-anak kenapa nggak suka sayur harus suka sayur dan lain sebagainya,” jelasnya.

Penjelasan mengenai serat, sayur, dan buah dapat membantu murid memahami alasan makanan beragam disajikan. Peran guru menjadi penghubung antara makanan yang diterima di sekolah dan pengetahuan tentang pilihan pangan sehari-hari. Sudaryono berharap pemahaman itu tumbuh di lingkungan sekolah lalu terbawa ke keluarga.

Sudut ini membuat evaluasi MBG lebih luas daripada menghitung makanan yang dibagikan atau perubahan konsumsi protein. Program juga membawa tujuan pendidikan gizi, sementara perbedaan kondisi daerah menuntut capaian dibaca secara hati-hati. Dalam keterangan Sudaryono, angka siswa yang masih datang ke sekolah dalam keadaan lapar tercatat 14 persen.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Cek Penerima Bansos PKH & BPNT Kemensos 14 Oktober 2026: Cara Cek NIK KTP Online