Rabu, 14 Oktober 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Istilah Super Intelligence Trump Naik 3 Kali di AS

Grafik pencarian super intelligence di layar komputer kantor pemerintahan
Pencarian istilah super intelligence sempat meningkat di Amerika Serikat, menurut Google Trends. (Ilustrasi: AI)

WASHINGTON — Istilah super intelligence yang dipilih Donald Trump untuk menyebut kecerdasan buatan menarik perhatian publik Amerika Serikat. Setelah perintah eksekutif disahkan, pencarian istilah itu di AS sempat meningkat sekitar tiga kali lipat, sementara perhatian dunia terhadap istilah baru tersebut tidak terlihat ikut naik.

Perubahan sebutan ini menyentuh cara pemerintah dan publik membicarakan teknologi AI. Trump menyebut pengguna istilah “artificial intelligence” sebagai musuh, tetapi sejumlah bagian pemerintah AS masih memakai istilah lama—termasuk alamat situs ai.gov.

Istilah baru, lonjakan pencarian di AS

Google Trends menunjukkan pencarian untuk super intelligence meningkat setelah perintah eksekutif disahkan. Kenaikannya sempat mencapai sekitar tiga kali lipat pada satu titik. Namun, bahan sumber tidak menyebut tanggal penerbitan perintah maupun rentang waktu pengukuran, sehingga lonjakan itu tidak dapat dikaitkan dengan periode yang lebih spesifik.

Perhatian tersebut tampak terbatas secara geografis. Sumber yang dikutip TechRadar menyebut kenaikan terjadi di Amerika Serikat, sedangkan tren pencarian global tidak menunjukkan perhatian serupa. Setelah lonjakan awal, minat pada istilah baru itu juga terlihat mereda.

Trump menyampaikan sikapnya melalui Truth Social, jejaring sosial yang ia dirikan melalui Trump Media & Technology Group. “The White House considers anyone that uses the term, ‘Artificial Intelligence,’ as opposed to the highly accepted new and more accurate term, ‘Super Intelligence,’ THE ENEMY! President DONALD J. TRUMP,” tulis Trump dalam unggahannya.

Istilah “musuh” dalam unggahan itu menunjukkan bahwa pilihan kata bukan sekadar soal gaya komunikasi. Trump mendorong istilah yang dinilainya lebih positif dan akurat, sementara penggunaan “artificial intelligence” diposisikan sebagai sesuatu yang ditentang Gedung Putih.

Perubahan bahasa belum menyeluruh

Sejumlah situs pemerintah AS dilaporkan mengganti rujukan “artificial intelligence” dan “AI” dengan “super intelligence” serta “SI”. Namun, perubahan itu tidak berlaku seragam. Politico, sebagaimana dikutip TechRadar, menemukan situs utama yang membahas super intelligence masih menggunakan alamat ai.gov.

Perbedaan tersebut memperlihatkan batas antara pernyataan politik dan penerapan administratif. Sebutan baru dapat muncul di laman tertentu, tetapi alamat situs yang tetap memakai “AI” menunjukkan bahwa istilah lama belum sepenuhnya disingkirkan dari infrastruktur pemerintah.

Bagi pembaca di luar AS, termasuk di Indonesia, perkembangan ini lebih relevan sebagai pergeseran bahasa politik ketimbang perubahan teknis pada teknologi yang digunakan. Bahan sumber tidak menyebut adanya perubahan pada sistem AI, cara kerjanya, atau aturan teknis akibat pergantian istilah. Yang berubah terutama adalah cara pemerintah Trump ingin publik menyebut teknologi tersebut.

Perbedaan nama tetap punya dampak. Istilah yang terdengar lebih positif dapat membentuk kesan publik, sementara kata “musuh” berpotensi membuat perdebatan tentang pilihan istilah ikut menjadi bagian dari persaingan politik. Namun, data pencarian yang tersedia dalam laporan itu hanya menunjukkan perhatian terhadap istilah, bukan sikap masyarakat terhadap teknologi atau kebijakan AI.

Dukungan Trump pada AI tetap kuat

TechRadar juga menempatkan perubahan istilah ini dalam konteks dukungan Trump terhadap kecerdasan buatan. Laporan tersebut menyebut kekhawatiran yang berkaitan dengan AI, mulai dari insiden Hugging Face hingga biaya lingkungan dan dampak pusat data terhadap masyarakat pedesaan. Meski begitu, Trump disebut tetap mendukung perkembangan teknologi tersebut.

Dalam persaingan dengan China, Trump menolak seruan agar AI dibatasi melalui pengaman atau guardrails. Ia memilih untuk tidak menghambat pengembangan teknologi ketika pesaing, khususnya China, dinilai tidak menerapkan langkah pencegahan yang sama.

Dengan latar itu, istilah “super intelligence” hadir sebagai bagian dari pesan politik yang mendukung teknologi sekaligus berusaha memberi citra lebih baik.

Lonjakan pencarian yang sempat terjadi belum membuktikan istilah tersebut akan bertahan. Minat awal tampak mereda dan perhatian global tidak mengikuti tren di AS. Perkembangan berikutnya bergantung pada apakah pemerintah terus mengganti istilah di kanal resminya dan apakah publik Amerika tetap memakai sebutan pilihan Trump.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru Hari Ini 14 Oktober 2026: Klaim Pack & Coins Gratis