Pada sektor nikel, salah satu arah investasinya ialah membangun ekosistem baterai kendaraan listrik secara menyeluruh. Rantai yang disebut Bahlil dimulai dari pertambangan nikel, berlanjut ke pengolahan dan produksi battery pack, lalu mencakup daur ulang. Artinya, target pemerintah tidak hanya bertumpu pada penjualan hasil tambang atau produk olahan awal.
Bagi industri dan pekerja, dampaknya bergantung pada seberapa jauh kegiatan pengolahan memunculkan usaha pendukung, membuka pekerjaan, dan melibatkan perusahaan nasional.
Bahlil menyebut hilirisasi dapat mendorong partisipasi pengusaha Indonesia, memperkuat penguasaan teknologi, serta memperluas pasar produk bernilai tambah. Bagi perekonomian, pergeseran itu menentukan apakah kenaikan nilai ekspor juga menumbuhkan kemampuan produksi di dalam negeri.
Perdebatan dagang dan dorongan energi hijau
Kebijakan penghentian ekspor bijih nikel juga memicu penolakan dari sejumlah pihak. Bahlil mengatakan kebijakan hilirisasi digugat Uni Eropa ke World Trade Organization (WTO), tetapi pemerintah melihat penciptaan nilai tambah sebagai bagian dari agenda ekonomi nasional.
Ia juga mengaitkan pengembangan industri dengan penggunaan energi baru terbarukan. Menurut Bahlil, pasar global semakin mencari produk yang dihasilkan melalui energi dan industri hijau, yang dinilainya memiliki nilai lebih tinggi dibanding produk berbasis energi fosil.
Perubahan menuju produksi yang lebih rendah emisi menjadi tantangan bagi rantai pasok nikel yang hendak memasok industri baterai. Target ekspor yang lebih tinggi perlu berjalan seiring pembangunan ekosistem dari hulu ke hilir dan dorongan energi bersih yang disampaikan pemerintah. Bahlil menetapkan sasaran ekspor mineral nikel minimal USD 45 miliar pada 2026.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.