Sabtu, 17 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Korupsi BNPB, Dana Darurat Bencana Diduga Buat Beli Saham Rp 30 Miliar

Korupsi BNPB, Dana Darurat Bencana Diduga Buat Beli Saham Rp 30 Miliar
Korupsi BNPB, Dana Darurat Bencana Diduga Buat Beli Saham Rp 30 Miliar

JAKARTA — Dana Siap Pakai (DSP) BNPB diduga mengalir untuk membeli saham senilai Rp30,98 miliar. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebut pembelian saham PT Medela Potentia Tbk (MDLA) itu terkait perkara dugaan korupsi pengadaan kebutuhan kebencanaan yang menyeret lima tersangka.

Pelaksana Tugas Direktur Penyidikan KPK Achmad Taufik Husein memaparkan dugaan tersebut dalam konferensi pers di Jakarta pada Jumat (17/10/2026). Saham dibeli melalui PT AVE, yang disebut memiliki 150,4 juta lembar saham atau setara 1,07% kepemilikan MDLA.

Menurut Achmad, nilai kepemilikan itu dihitung berdasarkan harga saham pada 13 Oktober 2026, yakni Rp206 per lembar. KPK menduga dana pengadaan yang mengalir ke perusahaan terafiliasi kemudian dipakai untuk kepentingan pribadi, termasuk transaksi saham tersebut.

Dugaan pengadaan BNPB mencapai Rp148 miliar

KPK memetakan perkara dalam dua klaster: konflik kepentingan dalam pengadaan dan dugaan suap. Pada klaster pertama, BNPB disebut bermitra dengan sejumlah penyedia melalui penunjukan langsung selama periode 2024–2026. Sebagian penyedia diduga memiliki hubungan dengan Bima Setiawan, tenaga ahli BNPB.

Nilai pengadaan dalam periode itu mencapai Rp148 miliar. Rinciannya, Rp45,76 miliar pada 2024, Rp52,27 miliar pada 2025, dan Rp50 miliar pada 2026. Achmad mengatakan KPK menduga aliran dana kepada perusahaan terafiliasi digunakan untuk kepentingan pribadi.

“Dari sejumlah penyedia tersebut diduga terafiliasi BMS,” kata Achmad dalam keterangan yang dikutip sumber utama. BMS adalah inisial Bima Setiawan, yang disebut sebagai tenaga ahli BNPB sekaligus adik mantan Kepala BNPB Suharyanto.

Temuan itu menempatkan pengadaan darurat sebagai bagian penting penyidikan. Dana Siap Pakai ditujukan untuk mendukung penanganan kebutuhan kebencanaan, sedangkan KPK kini menyelidiki dugaan penyimpangan dalam pemilihan penyedia dan penggunaan dana.

Jika dugaan tersebut terbukti, perkara ini menyangkut bukan hanya transaksi saham, tetapi juga pengelolaan anggaran yang semestinya menopang kebutuhan darurat.

KPK juga menyelidiki dugaan suap vendor

Klaster kedua berkaitan dengan dugaan pemberian uang dari pihak penyedia. KPK menyebut RIC, tenaga ahli Kepala BNPB saat itu, diduga meminta fee kepada vendor agar memperoleh paket pengadaan melalui penunjukan langsung.

Menurut Achmad, RIC diduga menerima Rp2,38 miliar dari GER, yang disebut sebagai direktur PT Trans Lintas Selaras (TLS). KPK juga menyatakan GER diduga memberikan Rp140 juta kepada GPS, kepala sekaligus pejabat pembuat komitmen pada Subdirektorat Pengelolaan Bantuan dan Dana Kedaruratan BNPB.

Dalam bahan keterangan KPK, GPS juga disebut menerima uang tunai Rp1,7 miliar, US$7.500, SGD9.000, 56 keping emas seberat 133 gram, serta tabungan emas 192 gram dari vendor penyedia. Rincian itu menjadi bagian dari dugaan penerimaan yang sedang ditangani penyidik.

KPK sebelumnya mengamankan 15 orang dalam operasi tangkap tangan di Jakarta pada Selasa (13/10/2026). Barang bukti yang disebutkan bernilai Rp5,47 miliar dan terdiri atas mata uang asing, uang tunai, kepingan emas, tabungan emas, serta aset kripto.

Dari operasi itu, KPK menetapkan lima tersangka: Bima Setiawan, Rirchard Erlangga, Gabriel Purwaka Sigit, Syifa Nrika Ghifarin, dan Gery Prasetiawan. KPK menyebut para tersangka berasal dari unsur tenaga ahli BNPB, pejabat pengelola pengadaan, dan pihak swasta. Status tersangka merupakan bagian dari proses hukum; dugaan yang disampaikan KPK masih harus diuji dalam tahapan peradilan.

Angka pokok mengenai nilai pengadaan, pembelian saham, jumlah lembar saham, dan harga per lembar konsisten dalam laporan sumber utama dan Antara.

Ada perbedaan pada tanggal konferensi pers: sumber utama mencantumkan Jumat (17/10/2026), sedangkan laporan JPNN menyebut Jumat (16/10/2026); artikel ini mengikuti tanggal pada sumber utama dan Antara.

Penyidikan KPK kini berlanjut pada dugaan aliran dana dan hubungan antara vendor, pejabat, serta perusahaan yang disebut terafiliasi.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair