Catatan kertas yang rentan hilang
Dokumen di Yangambi tersusun di rak terbuka dan terpapar kelembapan serta serangga. Muheki juga menyebut kebakaran pernah terjadi di bagian lain gedung itu beberapa bulan sebelum kedatangannya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa catatan lama bukan sekadar sulit dicari: arsipnya sendiri terancam rusak sebelum sempat dimanfaatkan.
“Melihat itu benar-benar menunjukkan betapa rapuhnya arsip kertas—dan betapa mendesaknya menyelamatkan data ini sebelum hilang,” ujar Muheki.
Yangambi menjadi pusat penelitian pertanian dan kehutanan pada masa kolonial Belgia, ketika perkebunan menjadi bagian penting kebijakan ekonomi. Belgia menguasai Kongo sebagai koloni dari 1908 hingga 1960. Setelah negara itu merdeka, pusat penelitian di Yangambi berganti nama menjadi INERA dan tetap beroperasi.
Untuk menyusun arsip tersebut, tim menyalin lebih dari 9.000 halaman catatan harian dari 37 stasiun cuaca. Mereka menggunakan MeteoSaver, perangkat berbasis pembelajaran mesin yang turut dikembangkan Muheki. Hasilnya adalah rekaman digital berkelanjutan untuk Cekungan Kongo, dari 1908 sampai 2023.
Data baru memperjelas tren pemanasan
Rekaman itu menunjukkan rata-rata suhu di DRK naik 0,5°C antara 1961 dan 1990, sementara suhu maksimum meningkat sekitar 0,7°C. Tren pemanasan berlanjut pada abad ke-21. Peneliti juga menemukan perubahan frekuensi hari panas ekstrem dan berkurangnya hari dingin.
Angka-angka itu membantu memperlihatkan apa yang sebelumnya sulit diukur di kawasan tersebut. Kekurangan data iklim telah menghambat penelitian tentang dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia terhadap ekosistem, masyarakat, dan siklus air di Afrika Tengah.
Tanpa catatan pengamatan yang memadai, peneliti lebih sulit menilai perubahan yang sudah terjadi maupun menyusun proyeksi untuk masa mendatang.
Dampaknya melampaui dunia penelitian. Rekaman suhu dan cuaca yang lebih lengkap dapat memperbaiki pemahaman tentang perubahan lingkungan di kawasan Cekungan Kongo, sekaligus menyediakan dasar yang lebih kuat untuk memperkirakan perubahan iklim di wilayah yang membutuhkan adaptasi terhadap dampaknya.
Bagi negara-negara di kawasan itu, arsip yang terselamatkan berarti tersedia bukti lokal, bukan sekadar gambaran umum dari wilayah lain.
“Mengakses lebih banyak catatan ini akan membantu kami memperbaiki rekonstruksi sejarah iklim atau proyeksi perubahan iklim masa depan di bagian dunia ini, tempat adaptasi terhadap dampak iklim sudah menjadi kebutuhan,” kata Muheki.
Peneliti menilai upaya penyelamatan data iklim perlu diperluas agar perubahan yang teramati dapat dinilai lebih baik. Catatan Yangambi kini tersedia dalam bentuk digital, tetapi arsip lain di kawasan yang sama masih perlu ditemukan dan diselamatkan sebelum kondisinya memburuk.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.