JAKARTA — Cadangan minyak komersial global tersisa di bawah 6 miliar barel. CEO Saudi Aramco Amin Nasser memperingatkan pasar minyak kehilangan bantalan pasokan, kondisi yang dapat mendorong harga BBM dan biaya hidup naik tajam.
Peringatan itu disampaikan Nasser dalam pidatonya di Energy Intelligence Forum di London pada awal Oktober 2026. Ia mengaitkan tekanan pasokan dengan Perang Iran dan gangguan armada di Selat Hormuz, jalur yang disebut dalam bahan sumber sebagai titik hambatan bagi pengiriman minyak.
Menurut estimasi Aramco yang disampaikan Nasser, sejak perang meletus dunia telah kehilangan hampir 3 miliar barel pasokan minyak mentah. Pada periode yang sama, lebih dari 1 miliar barel tersedot dari cadangan komersial global.
Peringatan cadangan minyak dari CEO Aramco
Angka stok yang tersisa tidak seluruhnya siap digunakan. Nasser menyebut porsi terbesar cadangan komersial berada dalam infrastruktur pipa dan terminal operasional, sehingga tidak bisa dipakai secara praktis sebagai pasokan yang segera tersedia.
Situasi ini membuat ukuran cadangan total perlu dibaca dengan hati-hati. Stok yang tercatat belum tentu seluruhnya dapat langsung dialirkan untuk mengatasi kekurangan di pasar. Ketika jalur distribusi terganggu, ruang untuk menutup kekurangan pasokan pun semakin terbatas.
Bagi pasar energi, bantalan pasokan berfungsi meredam dampak gangguan sementara. Jika cadangan yang mudah diakses menipis sementara aliran minyak terganggu, perubahan pasokan dapat lebih cepat terasa pada harga. Nasser memperingatkan hilangnya bantalan itu berisiko memicu kenaikan harga bahan bakar dan biaya hidup.
Risikonya tidak berhenti pada harga di pasar minyak. Kenaikan BBM dapat menambah pengeluaran rumah tangga dan biaya operasional usaha yang bergantung pada bahan bakar maupun distribusi. Bagi konsumen Indonesia, tekanan di pasar global menjadi relevan karena dapat berimbas pada biaya energi dan harga barang, meski bahan sumber tidak memuat angka dampak khusus untuk Indonesia.
Komitmen G7 dan pasokan minyak global
Dalam pidatonya, Nasser juga menanggapi komitmen negara-negara anggota G7 untuk melepas 100 juta barel cadangan minyak darurat. Ia memberikan penilaian keras terhadap langkah tersebut, menurut bahan sumber. Namun, kutipan langsung maupun rincian penilaian Nasser tidak dicantumkan, sehingga tidak ada pernyataan tambahan yang dapat dikutip secara verbatim.
Besaran pelepasan cadangan perlu dilihat bersama dengan skala kehilangan pasokan dan penarikan stok komersial yang ia paparkan.
Angka 100 juta barel itu lebih kecil daripada hampir 3 miliar barel pasokan minyak mentah yang disebut telah hilang sejak perang meletus, serta lebih dari 1 miliar barel yang telah terserap dari cadangan komersial.
Perbandingan ini menunjukkan mengapa pelepasan cadangan darurat saja belum tentu cukup untuk mengembalikan bantalan pasar.
Namun, bahan sumber tidak menjelaskan berapa lama pelepasan cadangan G7 akan berlangsung, bagaimana distribusinya, atau berapa bagian yang dapat segera mencapai pasar. Tanpa rincian itu, dampak langsung kebijakan tersebut terhadap ketersediaan minyak belum dapat dihitung dari informasi yang tersedia.
Perhatian berikutnya tertuju pada kemampuan pasokan melewati Selat Hormuz dan kondisi stok yang benar-benar bisa digunakan. Gangguan armada di jalur itu, ditambah cadangan yang terkunci dalam jaringan pipa dan terminal, menjadi bagian dari risiko yang disoroti Nasser. Aramco memperkirakan stok komersial dunia kini berada di bawah 6 miliar barel.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.