Ia memperingatkan bahwa ketergantungan impor dalam jangka panjang berisiko mengurangi kesempatan petani lokal memperoleh manfaat dari kebutuhan pangan yang besar. Karena itu, penguatan produksi beras dan jagung ia pandang sebagai langkah awal, bukan penanda bahwa seluruh komoditas telah mencapai swasembada.
“Swasembada itu kehormatan. Kehormatan kita, kehormatan rakyat Indonesia, kehormatan petani, nelayan, peternak Indonesia yang berjumlah 160 juta orang,” ujarnya.
Zulhas menyebut petani, nelayan, dan peternak sebagai pihak yang perlu mendapat perhatian dalam kebijakan pangan. Pemerintah, menurut dia, perlu menjaga orientasi pada kemandirian nasional sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat yang bekerja di sektor produksi pangan.
Antara turut memuat pernyataan Zulhas dalam pemberitaan mengenai acara yang sama. Rincian utama yang dilaporkan—penghentian impor beras pada 2025, surplus sekitar 4,2 juta ton, serta kenaikan nilai tukar petani dari 116 menjadi 131—sejalan dengan bahan utama. Tidak ada perbedaan angka yang perlu diselaraskan.
Penguatan produksi jagung juga masuk dalam klaim capaian awal, tetapi Zulhas mengatakan keberhasilan yang telah tampak baru menyentuh petani padi dan jagung. Ia berharap pijakan itu bisa diperluas ke komoditas pangan lain.
Perluasan tersebut akan menjadi ujian berikutnya bagi kebijakan swasembada yang ia dorong: bukan hanya mengurangi pasokan dari luar negeri, melainkan menjaga agar produsen pangan di dalam negeri ikut menikmati hasilnya. Pada 2025, surplus beras yang disebut Zulhas mencapai sekitar 4,2 juta ton.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.