Perpindahan itu membuat pengawasan lebih rumit. Percakapan yang semula berlangsung di ruang permainan dapat berlanjut di kanal lain, sehingga orang tua mungkin tidak melihat keseluruhan konteks hanya dengan mengetahui gim yang dimainkan anak.
Dampaknya terasa pada cara keluarga membangun kewaspadaan digital. Melarang semua gim tanpa melihat aktivitas dan pola komunikasi anak berisiko melewatkan persoalan yang sebenarnya: ajakan berpindah kanal, pesan yang membenarkan kekerasan, atau kelompok yang menuntut kesetiaan eksklusif.
Sebaliknya, perhatian pada perubahan interaksi memberi orang tua pijakan yang lebih konkret untuk membuka percakapan dan memahami apa yang terjadi.
Angel menekankan bahwa kerentanan tumbuh dari gabungan interaksi sosial, anonimitas, dan fitur yang bisa dimanfaatkan. Dengan demikian, pembicaraan tentang gim dan radikalisme tidak cukup berhenti pada jenis permainan. Pola hubungan pemain juga penting.
Peran orang tua dalam membaca perubahan perilaku
Orang tua dapat mulai dengan menanyakan pengalaman anak saat bermain, siapa yang berkomunikasi dengannya, serta apakah percakapan berlanjut di luar gim. Pendekatan ini sejalan dengan inti peringatan Angel: ancaman bukan melekat pada setiap permainan, melainkan muncul saat ruang interaksi digunakan untuk menyebarkan kebencian atau merekrut orang yang rentan.
Percakapan yang terbuka juga membantu anak membedakan ajakan bermain dari upaya membangun kedekatan yang disertai tekanan ideologis. Kewaspadaan bukan berarti menganggap setiap pemain asing sebagai ancaman. Yang perlu dicermati ialah pola komunikasi dan perubahan arah interaksi.
Angel, yang juga Peneliti Senior Center for Security and Foreign Affairs (CESFAS) UKI, mengingatkan bahwa kelompok radikal terus menyesuaikan strategi di ruang digital. Laporan sumber pembanding menyebut komunikasi dapat bergerak dari gim ke aplikasi pesan tertutup, sementara fitur permainan yang dapat dikustomisasi menambah ruang ekspresi pemain.
Rincian yang tersedia tidak menyebut nama gim tertentu sebagai sumber ancaman bagi anak-anak Indonesia. Karena itu, kewaspadaan keluarga lebih tepat diarahkan pada perilaku dan ajakan yang muncul dalam interaksi, bukan pada anggapan bahwa seluruh gim daring berbahaya.
Perhatian orang tua akan tetap dibutuhkan saat pola komunikasi digital berubah. Pemantauan yang disertai dialog dapat membantu keluarga mengenali perpindahan percakapan dari ruang gim ke grup tertutup—pola yang, menurut Angel, telah dikonfirmasi BNPT pada Oktober 2025.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.