Selasa, 27 Oktober 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Ahli Sebut AI Bisa Bikin Setiap Pekan Terasa Seperti Langit Runtuh di Internet

Ahli Sebut AI Bisa Bikin Setiap Pekan Terasa Seperti Langit Runtuh di Internet
Ahli Sebut AI Bisa Bikin Setiap Pekan Terasa Seperti Langit Runtuh di Internet

JAKARTA — Gangguan pada situs pemerintah di Eropa memperlihatkan betapa cepat celah perangkat lunak dapat berubah menjadi keadaan darurat. Para ahli keamanan siber memperingatkan, temuan kerentanan yang dibantu kecerdasan buatan (AI) bisa membuat pekan penuh kepanikan seperti ini lebih sering terjadi.

Gangguan mulai dilaporkan sejak Rabu (21/10), setelah kelemahan ditemukan pada PHP, bahasa pemrograman yang digunakan luas di internet. Sejumlah operator buru-buru memperbaiki sistem, sementara sebagian memilih menurunkan situs untuk sementara karena belum sempat memasang tambalan keamanan.

Risikonya nyata.

Laporan Reuters pada Jumat (23/10) menyebut operator khawatir peretas memanfaatkan celah itu untuk melancarkan serangan massal. Namun, para pakar mengingatkan bahwa banyaknya kerentanan yang terungkap tidak serta-merta berarti semua akan berujung pada serangan yang berhasil.

AI mempercepat pencarian celah internet

Matthew Prince, CEO Cloudflare, mengatakan masih ada sejumlah celah serius pada perangkat lunak penting lainnya. Menurut dia, AI akan terus membantu menemukan kelemahan yang selama ini tersembunyi di infrastruktur internet.

“Saya kira kita akan melewati beberapa tahun di mana setiap pekan terasa seperti langit runtuh,” ujar Prince, dikutip Reuters pada Kamis (23/10).

Prince menggambarkan proses menghadapi temuan itu seperti mengusir monster dari rumah hantu: menakutkan, tetapi lebih baik daripada membiarkan ancaman tetap tersembunyi. Ia optimistis banyak kerentanan pada akhirnya dapat dibereskan.

Gambaran tersebut menunjukkan dua sisi dari kemajuan AI dalam keamanan siber. Teknologi yang mampu membantu peneliti menemukan kelemahan lebih cepat juga dapat memperpendek waktu yang dimiliki operator untuk menutup celah sebelum pihak lain mencoba memanfaatkannya.

Bagi pengelola layanan publik dan bisnis, pekerjaan tidak berhenti pada menemukan masalah; sistem perlu diperiksa dan diperbarui tanpa membuat layanan penting terputus lebih lama dari yang diperlukan.

Rentetan insiden melampaui kasus PHP

Patrick Garrity, peneliti di firma intelijen ancaman VulnCheck, menyebut insiden PHP terjadi pada pekan yang memang sudah padat dengan temuan keamanan lain. Dalam periode yang sama, kerentanan pada Node.js dan Plex terungkap, pembobolan yang berkaitan dengan LiteLLM dan Railway dilaporkan, serta ditemukan penggunaan kunci kriptografi yang sangat lemah oleh otoritas sertifikat India, eMudhra.

Garrity menilai rentetan itu bukan sekadar kebetulan. “Kalau dalam seminggu saja ada empat atau lima kejadian seperti ini, saya kira masih akan jauh lebih banyak lagi,” katanya.

Ia juga memperingatkan bahwa setiap sistem yang tersambung ke internet berisiko menghadapi keadaan darurat serupa. Riset VulnCheck yang disebut akan dirilis dalam beberapa hari mendatang menunjukkan jumlah kerentanan yang ditemukan tahun ini naik dua kali lipat dibanding tahun lalu. AI disebut sebagai salah satu pendorong kenaikan itu.

Bagi pengguna, dampaknya bisa terasa ketika situs pemerintah atau layanan daring tak dapat diakses sementara pengelolanya menutup celah.

Bagi organisasi yang menjalankan layanan tersebut, temuan yang datang beruntun menambah tekanan untuk memilah mana kerentanan yang perlu ditangani segera dan bagaimana memperbaikinya tanpa membuka risiko baru.

Bahan sumber tidak menyebut adanya gangguan khusus di Indonesia, tetapi pola ancaman ini relevan bagi sistem apa pun yang terhubung ke internet.

Jumlah celah bukan ukuran serangan sukses

Meski begitu, tidak semua pakar menganggap kenaikan jumlah temuan kerentanan sebagai tanda bahwa serangan berhasil ikut melonjak. Ramy Rahman, senior principal solutions engineer di ArmorCode, menekankan perlunya membedakan pengungkapan celah dari dampak serangan di dunia nyata.

“Lebih banyak celah yang diungkap tidak otomatis berarti lebih banyak serangan yang berhasil,” kata Rahman.

Pembedaan itu penting ketika organisasi menilai ancaman. Peneliti dapat menemukan dan melaporkan kelemahan sebelum ada bukti bahwa penyerang berhasil memanfaatkannya. Pada saat yang sama, operator tetap perlu bergerak cepat: menilai sistem terdampak, memasang perbaikan, atau membatasi akses jika tambalan belum tersedia.

Perhatian berikutnya tertuju pada riset VulnCheck yang dijadwalkan terbit dalam beberapa hari mendatang. Temuan itu akan memberi gambaran lebih jauh tentang kenaikan kerentanan yang dilaporkan tahun ini dan peran AI di dalamnya, sementara pengelola layanan internet terus menghadapi kebutuhan untuk menutup celah yang sudah diketahui.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Kode Redeem Free Fire (FF) Hari Ini 27 Oktober 2026: Klaim Diamond & Skin Gratis