Selasa, 27 Oktober 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Serangan Drone Ukraina ke Pusat Data Rusia Ganggu Layanan Digital

Serangan Drone Ukraina ke Pusat Data Rusia Ganggu Layanan Digital
Serangan Drone Ukraina ke Pusat Data Rusia Ganggu Layanan Digital

SYDNEY — Serangan drone Ukraina ke pusat data Rusia mengganggu layanan digital yang dipakai warga sehari-hari. Serangan terhadap fasilitas milik Yandex sebelumnya membuat lalu lintas layanan perusahaan itu turun 94 persen, menurut bahan komentar yang diterbitkan CNA.

Gangguan tersebut merembet ke surel, pencarian, navigasi, musik, layanan pemesanan kendaraan, marketplace, dan layanan keuangan. Serangan terbaru menyasar pusat data terbesar Rusia, milik Sberbank, setelah tiga fasilitas Yandex lebih dulu dihantam.

Peristiwa ini memperlihatkan bahwa konflik digital tidak hanya berlangsung di jaringan internet. Pusat data fisik yang menopang layanan daring juga dapat menjadi sasaran militer, dengan konsekuensi langsung bagi pengguna sipil.

Pusat data Rusia jadi titik rentan

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan serangan itu membuat sejumlah platform media sosial “lebih mudah bernapas” karena aktivitas disinformasi Rusia dan bot berkurang. Namun, laporan setelahnya meragukan klaim tersebut. Bahan CNA tidak memastikan bahwa serangan itu benar-benar menurunkan operasi bot secara signifikan.

Terlepas dari klaim itu, serangan tersebut mengangkat persoalan penting: layanan internet bergantung pada bangunan, server, pasokan listrik, dan jaringan yang berada di lokasi nyata. Jika pusat data rusak, dampaknya dapat meluas dari operasi militer ke layanan yang digunakan masyarakat.

Serangan terhadap pusat data tergolong tidak lazim sebagai sasaran militer. Namun, arti penting fasilitas itu bertambah karena pusat data menopang komunikasi, ekonomi, dan layanan daring. Gangguan berkepanjangan di Rusia juga dapat menekan kegiatan ekonomi dan, dalam jangka panjang, mengurangi kemampuan negara itu melanjutkan perang, menurut analisis akademisi yang dimuat CNA.

Risiko bertambah ketika layanan terkonsentrasi di sedikit lokasi. Bahan tersebut menyebut lebih dari 100 pusat data beroperasi di wilayah Rusia, tetapi hanya sedikit yang memiliki cadangan dan rencana ketahanan. Jika fasilitas utama terkena serangan, pemulihan dapat berjalan lambat.

Kedaulatan digital punya konsekuensi

Kerentanan itu berkaitan dengan konsep kedaulatan digital yang didorong Moskow selama sekitar satu dekade. Gagasan negara mengendalikan data dan infrastrukturnya sendiri dinilai masuk akal. Namun, menurut tulisan CNA, pendekatan Rusia juga memberi ruang bagi penyensoran informasi dan pemisahan pengguna Rusia dari layanan internet global.

Ketergantungan pada infrastruktur domestik dapat membatasi pilihan cadangan dari luar negeri. CNA juga mencatat Rusia bergantung pada China untuk pasokan semikonduktor canggih, yang dapat mempersulit pembangunan kembali fasilitas ketika pusat data rusak.

Pengalaman serangan terhadap pusat data di Timur Tengah memberi gambaran tentang dampak kerusakan fisik. Fasilitas yang diserang di kawasan itu dioperasikan Amazon Web Services.

Meski pusat data biasanya memiliki sistem cadangan agar kerusakan satu fasilitas tidak menimbulkan akibat permanen, serangan Iran tetap menyebabkan penurunan layanan berkepanjangan dan kehilangan sebagian data yang tidak dapat dipulihkan.

Bagi pengguna, dampaknya terasa dalam bentuk layanan yang melambat atau tidak tersedia, bukan semata-mata perdebatan mengenai strategi perang. Ketika surel, peta, pencarian, dan transaksi digital bergantung pada fasilitas yang sama, gangguan pada satu titik dapat menghambat banyak kegiatan sekaligus. Bahan sumber tidak merinci jumlah pengguna yang terdampak di Rusia.

Disinformasi tak hanya soal berita palsu

Serangan terhadap infrastruktur juga menambah dimensi baru dalam upaya menghadapi disinformasi. Selama ini, pemerintah dan kelompok masyarakat kerap berfokus pada pembongkaran klaim palsu, pemberian penjelasan, atau pelaporan konten kepada platform. Padahal, operasi pengaruh tidak selalu menyebarkan kebohongan secara langsung.

Menurut CNA, sebagian operasi justru berusaha merusak kepercayaan publik dan melemahkan legitimasi proses demokrasi serta lembaga. Contoh yang dikemukakan dalam tulisan itu mencakup narasi tandingan dalam referendum Indigenous Voice to Parliament di Australia pada 2023, serta gelombang pelecehan misoginis di Selandia Baru yang ditujukan untuk mengganggu dukungan terhadap inisiatif kebijakan.

Kelompok masyarakat sipil dan aktivis merespons lewat beragam cara, termasuk membantah klaim, melakukan prebunking untuk mengantisipasi narasi menyesatkan, melaporkan konten, serta menggunakan humor dan meme. Serangan fisik terhadap pusat data bukan pengganti langkah-langkah itu. Efektivitasnya dalam menekan disinformasi pun belum dipastikan.

Namun, kasus Rusia menunjukkan operasi pengaruh daring tetap bergantung pada infrastruktur nyata. CNA menyebut sedikitnya pusat data di Rusia memiliki cadangan dan rencana ketahanan, sementara pemulihan fasilitas yang rusak dapat terhambat oleh ketergantungan pada pasokan semikonduktor canggih dari China.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda