Dolar AS tinggal Rp16 dari ambang Rp18.200. Pelemahan rupiah berisiko menambah tekanan biaya bagi Indonesia, terutama ketika harga minyak dunia bertahan tinggi.
Pada penutupan perdagangan Rabu (28/10/2026), dolar AS tercatat Rp18.184 dan menguat 0,15% terhadap rupiah, menurut data Bloomberg. Kurs JISDOR Bank Indonesia pada hari yang sama berada di Rp18.183, naik dari Rp18.139 pada Selasa (27/10) dan Rp18.116 pada Senin (26/10).
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyebut ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah ikut menekan rupiah. Situasi itu menjaga harga minyak di atas US$115 per barel sekaligus mendorong kenaikan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat.
“Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat,” kata Erwin dalam keterangan tertulis, Rabu (28/10/2026). Ia juga mengaitkan harga minyak yang tinggi dengan naiknya risiko fiskal ke depan.
Tekanan tersebut datang saat sentimen pasar memburuk. Menurut Erwin, kecenderungan investor menghindari aset berisiko mendorong penguatan dolar dan memicu aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Kenaikan imbal hasil obligasi turut terjadi dalam situasi itu.
Bagi Indonesia, pelemahan rupiah dan mahalnya minyak dapat membuat biaya impor energi lebih berat. Dampaknya berpotensi merambat ke anggaran negara melalui subsidi serta kompensasi energi. Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi juga menilai harga minyak yang bertahan di atas US$100 per barel dapat menekan anggaran, sementara kenaikan biaya produksi dan transportasi berpotensi mendorong inflasi.
Kurs Transaksi BI pada 28 Oktober menunjukkan harga jual dolar AS Rp18.229,69 dan harga beli Rp18.048,31. Angka itu menggambarkan rentang kurs transaksi yang berlaku, sementara JISDOR mencatat kurs referensi harian Rp18.183.
BI menyatakan kebijakan moneternya tetap diarahkan untuk menstabilkan rupiah di tengah tekanan eksternal dan menjaga inflasi 2026–2027 pada sasaran 2,5±1%. Untuk mengelola pasar valuta asing, bank sentral mengoptimalkan intervensi melalui instrumen NDF, spot, dan DNDF. BI juga meningkatkan insentif DNDF lindung nilai untuk menarik aliran modal masuk.
Pasar masih mencermati perkembangan konflik Timur Tengah, harga minyak, dan ekspektasi suku bunga AS. Erwin menyebut kombinasi faktor itu menjaga tekanan pada rupiah, sementara pergerakan modal asing menambah tantangan bagi stabilitas nilai tukar.
Sumber: finance.detik.com

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.