Permintaan listrik Asia Tenggara meningkat, sementara kawasan masih bergantung pada bahan bakar impor. World Nuclear Association (WNA) menyebut kapasitas pembangkit nuklir yang direncanakan negara-negara Asia Tenggara hingga 2050 mencapai sekitar 37 gigawatt (GW).
Angka itu setara kira-kira seperempat dari total ambisi kapasitas nuklir seluruh negara pendatang baru di dunia. Direktur Jenderal WNA Sama Bilbao y León menyampaikan pandangan tersebut dalam wawancara dengan Singapore International Energy Week (SIEW) 2026, merujuk laporan World Nuclear Outlook yang baru dirilis WNA.
“Terus terang, saya kira hanya sedikit kawasan di dunia yang lebih siap untuk berhasil memanfaatkan energi nuklir,” kata Sama.
Target nuklir Asia Tenggara mencapai 37 GW
Hingga kini, energi nuklir praktis belum masuk dalam bauran energi Asia Tenggara. Namun, Vietnam, Indonesia, Filipina, dan Thailand telah menetapkan target nuklir. Sejumlah negara lain masih mengkaji peran teknologi tersebut dalam sistem energi mereka.
Perubahan itu berlangsung saat kebutuhan listrik kawasan terus bertambah. Pertumbuhan ekonomi, ekspansi pusat data, serta kebutuhan pendinginan ikut mendorong permintaan. Pada saat yang sama, ketergantungan terhadap bahan bakar impor membuat negara-negara di kawasan rentan terhadap gangguan pasokan dan guncangan harga.
Artinya, rencana nuklir bukan hanya soal menambah sumber pembangkit. Bagi negara yang masih mengkaji langkahnya, pilihan energi akan berpengaruh pada keandalan pasokan dan paparan terhadap gejolak bahan bakar impor. WNA menilai nuklir dapat menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan listrik sekaligus mendukung dekarbonisasi.
Sama menyebut kapasitas industri dan rekam jejak menyelesaikan proyek infrastruktur besar tepat waktu serta sesuai anggaran sebagai modal Asia Tenggara. “Kondisi untuk pertumbuhan energi nuklir yang sukses sudah tersedia di sana,” ujarnya.
Regulasi dan tenaga kerja perlu disiapkan
Kesiapan itu tetap harus diikuti pekerjaan dasar. Negara yang baru masuk ke sektor nuklir perlu menyusun kebijakan, membangun infrastruktur regulasi, serta menyiapkan tenaga kerja dan kemampuan industri. WNA menyatakan sejumlah langkah tersebut dapat berjalan paralel ketika pemerintah merampungkan aspek hukum dan menilai pilihan teknologi.
Menurut Sama, negara-negara ASEAN sebaiknya membangun regulasi, industri, dan tenaga kerja nuklir secara bersama-sama. Ia juga mendorong perencanaan sebagai program nasional, bahkan regional, alih-alih mengembangkan proyek secara terpisah. Pendekatan bersama dinilai dapat mempercepat efisiensi dan pencapaian skala ekonomi.
Koordinasi seperti itu akan menentukan bagaimana rencana kapasitas diterjemahkan menjadi program yang bisa dijalankan. Regulasi, keahlian, dan kemampuan industri bukan unsur tambahan setelah pembangkit dipilih; semuanya termasuk pekerjaan yang perlu disiapkan sejak awal. Bahan sumber tidak merinci jadwal pembangunan atau pembagian target kapasitas antarnegara.
Bagi masyarakat dan pelaku usaha, dampaknya terkait dengan bentuk sistem listrik yang tersedia. WNA menilai nilai energi nuklir perlu dilihat dari manfaat sosial, termasuk akses terhadap energi yang melimpah, terjangkau, tersedia sepanjang waktu, dan bebas karbon. Ketersediaan pasokan juga penting bagi kegiatan yang membutuhkan listrik secara konsisten, termasuk pusat data dan fasilitas industri.
Nuklir dinilai bisa menopang jaringan dan industri
Peran pembangkit nuklir, menurut Sama, dapat melampaui pasokan listrik. Dalam sistem energi yang makin terhubung, nuklir dinilai dapat membantu menjaga stabilitas jaringan, inersia, frekuensi, dan tegangan. Unsur-unsur itu berkaitan dengan ketahanan sistem ketika permintaan dan pasokan harus dijaga tetap seimbang.
WNA menyebut dukungan terhadap stabilitas jaringan berpotensi menekan harga sekaligus memperkuat sistem. Teknologi yang dapat dipertimbangkan juga beragam, mulai dari reaktor besar hingga reaktor modular kecil atau SMR. Bahan sumber tidak menyebut teknologi mana yang telah dipilih oleh negara-negara yang memiliki target nuklir.
Pembangkit nuklir juga dapat menghasilkan panas dan uap untuk kebutuhan industri. Pemanfaatan itu menjadi relevan ketika negara berupaya meninggalkan bahan bakar fosil dan batu bara, karena industri membutuhkan pasokan energi untuk menjalankan fasilitasnya.
“Ketika negara-negara ini berupaya meninggalkan bahan bakar fosil dan batu bara, energi nuklir dapat berperan sangat penting untuk memberi tenaga baru bagi fasilitas-fasilitas tersebut,” kata Sama.
WNA menempatkan energi sebagai mesin penggerak perekonomian, bukan sektor pelengkap. Karena itu, rencana hingga 2050 akan bergantung bukan hanya pada kapasitas pembangkit yang diumumkan, tetapi juga pada kebijakan, kesiapan regulator, tenaga kerja, dan industri yang dibangun untuk mendukungnya. Kapasitas nuklir yang direncanakan di Asia Tenggara mencapai sekitar 37 GW.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.