“Saya ingin memperjelas: saya tidak melarikan diri dari Brasil; saya pergi demi Brasil,” tulis Flávio dalam pernyataan yang ditujukan kepada warga Brasil dan komunitas internasional.
Ia juga menuduh Mahkamah Agung Federal mengatur persekusi terhadap dirinya dan ayahnya, mantan presiden Jair Bolsonaro. Flávio memperkirakan tindakan hukum dapat berlanjut dari penyitaan paspor ke pemantauan elektronik, sensor, tahanan rumah, hingga vonis politik. Ia menegaskan belum ada surat perintah penangkapan terhadap dirinya dan membantah melakukan kejahatan.
Laporan pembanding menyebut Flávio menolak menyerahkan paspor setelah ada perintah Mahkamah Agung Brasil dalam penyelidikan pencucian uang. Ia juga pergi bersama keluarga setelah memperoleh visa AS. Rangkaian ini menjadi latar kepergiannya, tetapi tidak membuktikan tuduhan persekusi yang ia sampaikan.
Oposisi akan dipimpin dari luar negeri
Flávio mengatakan akan berbicara atas nama pendukungnya yang menurut dia tidak leluasa menyampaikan pandangan di Brasil. Ia menyebut Senator Rogério Marinho sebagai calon ketua Senat dan berjanji segera menyampaikan strategi untuk menggerakkan oposisi dengan cara yang ia sebut damai dan sah.
Untuk membingkai kepergiannya sebagai perjuangan politik, Flávio membandingkan dirinya dengan Charles de Gaulle dan para pemimpin oposisi Venezuela. Ia menyatakan tetap akan terlibat dalam politik Brasil dari luar negeri, bukan meninggalkan perjuangan.
Langkah itu menandai eskalasi baru setelah Flávio sebelumnya menyatakan akan mengupayakan pembatalan pemilu. Partai Liberal kemudian mengakui hasil yang diumumkan Pengadilan Tinggi Pemilu Brasil. Perolehan tambahan yang dipersoalkan Flávio: lebih dari 10 juta suara.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.