Surat Saba’ ayat 24 juga menegaskan sumber rezeki tersebut: “Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi?’ Katakanlah, ‘Allah’.” Kedua ayat itu menempatkan Allah sebagai pemberi rezeki yang hakiki.
Manusia tetap berperan dalam kehidupan ekonomi. Pekerjaan, perdagangan, dan bantuan sosial dapat menjadi jalan bagi seseorang untuk menerima atau menyalurkan rezeki. Tetapi, dalam keyakinan Islam, manusia bukan pemilik kuasa mutlak untuk memberikan atau menahan rezeki di luar kehendak Allah.
Ujian ekonomi bukan alasan berhenti berusaha
Pemahaman tentang ketetapan rezeki tidak menghapus ikhtiar. Orang yang menghadapi keterbatasan tetap diperintahkan untuk berusaha, sementara orang yang berkecukupan menghadapi tanggung jawab untuk bersyukur. Keduanya menjalani ujian dengan keadaan berbeda.
Bagi kehidupan bersama, cara memahami perbedaan ini ikut menentukan bagaimana orang memandang mereka yang kekurangan. Kemiskinan tidak semestinya dijadikan alasan untuk merendahkan seseorang, sementara kekayaan juga tidak otomatis menjadi ukuran keberhasilan rohani. Ajaran tentang rezeki mengarahkan perhatian pada sikap manusia terhadap nikmat dan cobaan yang diterimanya.
Surat Asy-Syura ayat 27 menutup penjelasannya dengan menyebut Allah Maha Mengetahui dan Maha Melihat keadaan hamba-hamba-Nya. Ayat itu menjadi pengingat bahwa ukuran rezeki berada dalam ketetapan-Nya, sementara manusia diminta terus berusaha dan menjalani keadaannya dengan sabar serta syukur.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.