Bangun menolak tawaran tersebut secara halus. Ia menyebut kelompoknya sudah menjadwalkan audiensi dengan DPRD Kota Solo untuk menyampaikan aspirasi. Karena itu, mereka berharap surat bisa disalurkan melalui perwakilan Jokowi atau Paspampres.
Bagi warga yang ingin bertemu Jokowi, tawaran Zainudin menunjukkan jalur yang disampaikan petugas: mengikuti antrean bersama warga lain. Sementara kelompok tersebut memilih audiensi dengan DPRD Kota Solo sebagai cara menyampaikan tuntutan. Aksi itu berlangsung tanpa mereka mendekati kediaman mantan presiden tersebut.
Polemik ijazah juga dipersoalkan
Tuntutan kelompok itu tidak hanya menyangkut posisi Gibran. Mereka meminta Jokowi tidak lagi menyebut polemik ijazah dirinya dan putranya sebagai operasi politik. Mereka juga mempersoalkan istilah “penumpang gelap” untuk pihak yang mempertanyakan status ijazah keduanya.
“Janganlah menuduh pihak yang bertanya perihal status ijazah Bapak dan Saudara Gibran Rakabuming Raka dengan istilah operasi politik dan penumpang gelap,” ujar Bangun.
Isi surat tersebut memperlihatkan bahwa kelompok itu menghubungkan tuntutan pengunduran diri Gibran dengan polemik mengenai ijazah. Namun, dalam aksi di sekitar rumah Jokowi, Bangun menyampaikan tuntutan kelompoknya, bukan keputusan atau sikap resmi dari lembaga negara.
Kelompok Pejuang Merah Putih Indonesia menyatakan ingin menyampaikan aspirasi melalui dua surat dan audiensi dengan DPRD Kota Solo. Zainudin sendiri menawarkan kesempatan untuk bertemu Jokowi melalui antrean warga.
Lokasi penyampaian surat itu berada di mulut Gang Kutai Utara, beberapa puluh meter dari rumah Jokowi.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.