JAKARTA — Oracle resmi memperkenalkan skema monetisasi baru bagi pengguna perangkat lunak perusahaan mereka. Perusahaan teknologi raksasa ini akan menerapkan model tagihan berbasis penggunaan atau usage-based revenue yang akan dibebankan setiap kali kecerdasan buatan (AI) menyelesaikan tugas tertentu dalam sistem mereka.
Strategi ini menandai pergeseran dari model langganan kursi (seat-based) konvensional yang selama ini menjadi standar industri.
Chris Leone, Executive Vice President of Application Development di Oracle, menjelaskan bahwa semakin intensif penggunaan AI dalam sistem, semakin besar pendapatan yang akan dihasilkan. Perusahaan tidak lagi hanya mengandalkan penambahan jumlah pengguna untuk meningkatkan nilai kontrak.
“Semakin banyak pekerjaan yang diselesaikan oleh AI dalam sistem kami, semakin banyak pendapatan yang kami lihat karena mereka mengonsumsi unit AI saat pekerjaan itu dilakukan. Kami tidak harus menambah kursi agar bisa menghasilkan pendapatan lebih banyak,” ujar Leone dalam acara hari investor Oracle, Rabu lalu, sebagaimana dikutip dari laporan The Register.
Dorongan Pendapatan dan Automasi Bisnis
Inisiatif ini terintegrasi langsung dengan pengembangan perangkat lunak Fusion Claw runtime yang baru saja diperkenalkan. Teknologi ini dirancang untuk mengontrol agen AI yang mengotomatisasi berbagai proses bisnis krusial, mulai dari sistem ERP, keuangan, hingga manajemen rantai pasok dalam aplikasi Fusion di Oracle Cloud Infrastructure (OCI).
Tidak hanya terbatas pada aplikasi internal, Fusion Claw juga dirancang untuk mengotomatisasi pekerjaan yang dilakukan di luar ekosistem aplikasi Fusion. Langkah ini merupakan bagian dari upaya besar Oracle untuk mengejar target pendapatan sebesar 225 miliar dolar AS pada tahun 2030, di tengah ambisi mereka menguasai pangsa pasar AI global.
Bagi perusahaan di Indonesia yang menggunakan infrastruktur Oracle, model ini berarti pergeseran fokus biaya operasional teknologi dari kuantitas pengguna menjadi volume beban kerja AI. Efisiensi yang ditawarkan sistem otomatisasi diharapkan dapat mengimbangi peningkatan biaya tagihan bulanan yang mungkin muncul akibat skema baru tersebut.
Belanja Infrastruktur Besar-besaran
Langkah monetisasi ini menjadi krusial untuk menopang ambisi belanja infrastruktur Oracle yang sangat agresif. Pada tahun fiskal 2026 yang berakhir Mei lalu, Oracle tercatat menghabiskan 55,7 miliar dolar AS untuk pusat data dan infrastruktur awan. Angka ini diproyeksikan melonjak hingga rentang 90 miliar hingga 95 miliar dolar AS pada tahun fiskal 2027.
Untuk mendanai ekspansi besar-besaran tersebut, perusahaan bersiap menambah utang dengan rencana penggalangan sekitar 40 miliar dolar AS dalam bentuk utang dan ekuitas pada tahun 2027. OCI sendiri dipersiapkan menjadi rumah bagi pengembang model bahasa besar, termasuk OpenAI, di samping beban kerja pelanggan mereka sendiri.
Di sisi lain, Co-CEO Oracle Mike Sicilia menekankan bahwa AI juga akan digunakan untuk mempercepat proses migrasi pelanggan dari sistem on-premises ke awan. Menurutnya, hambatan utama selama ini adalah keengganan pengguna untuk mengubah sistem lama.
Dengan alat otomatisasi berbasis AI, proses pemindahan data dan implementasi dapat dilakukan jauh lebih cepat, yang pada gilirannya membuka pintu pendapatan lebih besar bagi Oracle dari basis pelanggan lama tersebut.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.