Sabtu, 31 Oktober 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

BMKG Ungkap OMC Efektif Padamkan Karhutla di Sumsel dan Kalteng

BMKG Ungkap OMC Efektif Padamkan Karhutla di Sumsel dan Kalteng
BMKG Ungkap OMC Efektif Padamkan Karhutla di Sumsel dan Kalteng

PALEMBANG — BMKG menyebut operasi modifikasi cuaca (OMC) membantu memadamkan karhutla di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah sejak sekitar 18 Oktober 2026. Hujan lebat dapat memadamkan api di permukaan dalam satu kejadian, tetapi bara di bawah gambut masih berisiko menyala kembali.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo mengatakan hujan dengan intensitas tinggi dan cakupan luas sangat membantu petugas Manggala Agni. BMKG masih memprioritaskan dua provinsi itu hingga Jumat (30/10), meski jumlah titik panas dalam tiga hingga empat hari terakhir berkurang drastis.

“Kawan-kawan Manggala Agni itu mereka sangat terbantu kalau terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan dalam cakupan yang cukup luas,” kata Budi saat dihubungi kumparan, Jumat (30/10).

Mengapa OMC karhutla membantu pemadaman?

Hujan membawa volume air jauh lebih besar daripada helikopter water bombing yang harus mengambil dan menjatuhkan air berulang kali. Menurut Budi, bila hujan turun di area kebakaran, satu kejadian hujan dapat memadamkan api di permukaan pada lokasi tertentu.

Namun, hujan tidak otomatis menuntaskan kebakaran di lahan gambut. Api dapat bertahan di bawah permukaan tanah, sementara bagian atasnya tampak sudah padam. Bara yang tersembunyi itu berpotensi muncul lagi setelah satu hingga dua hari tanpa hujan, apalagi ketika angin bertiup kencang.

Karena itu, petugas darat Manggala Agni tetap memeriksa lokasi untuk menemukan titik api tersisa. Tim darat berkoordinasi dengan BMKG, sementara BNPB mengerahkan helikopter untuk membantu pemantauan dan pemadaman. Pengarahan bersama berlangsung setiap pagi dan sore dari Posko Halim.

Dampaknya terasa langsung bagi warga di wilayah terdampak: hujan dapat meringankan kerja pemadam dan membantu menekan kebakaran, tetapi kondisi permukaan yang basah belum menjamin api di gambut benar-benar hilang. Pemantauan setelah hujan tetap penting agar asap dan kebakaran susulan tidak luput dari penanganan.

Sumsel dan Kalteng tetap jadi prioritas OMC

Budi mengatakan operasi dimulai sekitar 18 Oktober 2026 setelah arahan Presiden Prabowo Subianto kepada sejumlah pimpinan kementerian dan lembaga, termasuk Kepala BMKG dan Panglima TNI. Palembang di Sumatera Selatan dan Palangka Raya di Kalimantan Tengah menjadi wilayah prioritas saat kualitas udara di kedua provinsi dinilai sangat buruk dibandingkan provinsi lain.

BMKG menentukan pelaksanaan OMC dengan melihat potensi awan hujan dan laporan petugas di lapangan. Jika awan tersedia di lokasi yang masih menunjukkan kepulan asap, BMKG berupaya mengoptimalkan hujan agar turun di area tersebut. Logistik untuk operasi dikirim ke lapangan menggunakan pesawat Hercules, sementara koordinasi terpusat di Posko Halim.

Budi mengingatkan, BMKG tidak mengklaim seluruh hujan yang turun di Sumatera Selatan dan wilayah Sumatera lainnya dalam beberapa hari terakhir berasal dari OMC. Awan hujan juga dapat terbentuk secara alami. Operasi ini diarahkan untuk memaksimalkan potensi hujan agar turun tepat di titik kebakaran, bertahan lebih lama, dan mencakup area lebih luas.

Dalam laporan terpisah pada Kamis, ANTARA menyebut TNI AU menyebar 42 ton garam di langit Sumatera Selatan untuk mendukung hujan buatan. Penyemaian dilakukan memakai pesawat C-130 Hercules dan dua pesawat BNPB. Angka itu merujuk pada kegiatan penyemaian di Sumsel, sedangkan penjelasan BMKG mencakup operasi di Sumsel dan Kalteng; keduanya menggambarkan bagian berbeda dari upaya penanganan karhutla.

BMKG tetap mengandalkan laporan patroli dan kondisi awan untuk menentukan lokasi penyemaian. Di lahan gambut, pekerjaan belum selesai saat api di permukaan menghilang: bara di bawah tanah masih dapat memicu kebakaran kembali setelah satu hingga dua hari tanpa hujan.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda