JAKARTA — Harga emas dunia anjlok 3,6% dan ditutup di US$ 3875,03 per troy ons pada Jumat (30/10/2026), level terendah dalam lebih dari setahun. Pelemahan tajam ini memperpanjang penurunan harga emas dan memunculkan proyeksi bahwa harganya bisa turun ke US$3.600 pada akhir 2027.
Merujuk data Refinitiv, harga penutupan Jumat menjadi yang terendah sejak 2 Oktober 2025, ketika emas berada di US$ 3.856,01 per troy ons. Dalam dua hari, harga emas telah merosot 4,7%.
Penurunan itu berdampak langsung pada nilai aset investor yang memegang emas, sementara prospek pemulihan masih dibayangi inflasi dan kemungkinan suku bunga Amerika Serikat bertahan tinggi. Emas tidak memberikan imbal hasil, sehingga daya tariknya berkurang ketika aset berbunga menawarkan prospek lebih menarik.
Mengapa harga emas terus tertekan?
Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi yang belum mereda. Pasar pun memperkirakan bank sentral akan mempertahankan kebijakan ketat lebih lama, sebuah kondisi yang menekan logam mulia.
Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, mengatakan kekhawatiran inflasi mendorong sejumlah bank sentral mempertahankan sikap hawkish.
“Kekhawatiran yang terus berlanjut terhadap inflasi membuat sejumlah bank sentral cenderung mengambil sikap lebih hawkish atau mengetatkan kebijakan moneter,” ujar Grant, dikutip dari Refinitiv.
Bank sentral utama memang menahan suku bunga pada pekan itu. Namun, Federal Reserve (The Fed) dan Bank Sentral Eropa (ECB) sama-sama menyoroti risiko inflasi yang datang dari kenaikan biaya energi. Data yang dirilis Kamis juga menunjukkan inflasi AS meningkat pada September, saat konsumen membayar lebih mahal untuk bensin dan sejumlah barang.
Situasinya belum ringan. Perkiraan ekonom bahwa The Fed berpotensi menaikkan suku bunga pada Desember ikut memperkuat tekanan terhadap emas. Grant mengatakan sinyal dari bank sentral menunjukkan suku bunga tinggi dapat bertahan lebih lama, sehingga menekan harga logam mulia.
Emas jatuh bersama saham teknologi
Penurunan saham teknologi turut menambah tekanan. Analis Commerzbank menilai aksi jual tajam di sektor itu berpotensi memicu penjualan paksa dan margin call, yakni permintaan broker agar investor menambah jaminan ketika nilai asetnya turun.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.