Sabtu, 31 Oktober 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Mengenal Baitul Hikmah, Tradisi Keilmuan dalam Sejarah Islam yang Melahirkan Ilmuwan Muslim

Baitul Hikmah sebagai inspirasi tradisi keilmuan pesantren Indonesia
Ilustrasi suasana pusat pembelajaran dan penelitian yang terinspirasi Baitul Hikmah. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Baitul Hikmah menjadi inspirasi bagi pesantren di Indonesia untuk mengembangkan pendidikan yang merangkul ilmu pengetahuan dan teknologi, kata Menteri Agama dalam acara Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat.

Gagasan itu membawa dampak langsung bagi arah pendidikan pesantren: santri diharapkan tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga memiliki ruang untuk menguasai bidang lain.

Menteri Agama mengatakan tradisi keilmuan Baitul Hikmah dapat dihidupkan kembali di lingkungan pesantren. Lembaga yang dikenal sebagai pusat ilmu pada masa kejayaan peradaban Islam itu mempertemukan penelitian, pembelajaran, dan kerja sama lintas latar belakang.

Baitul Hikmah, pusat ilmu lintas disiplin

Dalam sejarah Islam, Baitul Hikmah didirikan pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid pada 786 Masehi. Putranya, Khalifah Al-Ma’mun, kemudian mengembangkan lembaga tersebut pada 813 Masehi.

Peran Baitul Hikmah tidak hanya berkaitan dengan penyebaran pengetahuan. Lembaga itu menjadi tempat para ilmuwan mengembangkan kajian dalam beragam bidang. Tradisi tersebut ikut melahirkan tokoh-tokoh yang memberi sumbangan penting bagi perkembangan ilmu.

Menteri Agama mencontohkan Jabir bin Hayyan dalam bidang kimia, Al-Khawarizmi dalam matematika, Ibnu Haitsam dalam optika, serta Ibnu Sina dan Al-Razi dalam kedokteran. Ia juga menyebut Ibnu Rusyd, yang menguasai kedokteran, filsafat, dan fikih.

Keberagaman bidang itu, menurut Menag, menunjukkan bahwa pendidikan tidak perlu membatasi seseorang pada satu cabang ilmu. Santri dapat mendalami agama sekaligus mengembangkan kompetensi di bidang lain.

Apa yang bisa dipelajari pesantren dari Baitul Hikmah?

Pelajaran utamanya terletak pada keterbukaan terhadap pengetahuan dan kerja bersama. Menag menyoroti tradisi Baitul Hikmah yang mempertemukan ilmuwan Muslim, Kristen, Yahudi, Hindu, serta kelompok lain dalam lingkungan pembelajaran dan penelitian.

“Di dalam satu majelis mereka mendirikan laboratorium. Nah, ini yang dilakukan di abad pertengahan,” kata Menag.

Gagasan itu relevan bagi pesantren karena tantangan pendidikan saat ini, menurut Menag, bukan hanya mempertahankan tradisi keagamaan. Pesantren juga perlu menyiapkan santri agar mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keterampilan lintas disiplin dapat membuka lebih banyak pilihan bagi lulusan, baik untuk berkiprah sebagai ilmuwan maupun mengisi profesi lain.

Dampaknya melampaui lingkungan pendidikan. Jika pesantren memberi ruang bagi kajian sains dan kolaborasi, santri dapat membawa pengetahuan tersebut ke masyarakat melalui pekerjaan, penelitian, dan kepemimpinan. Itu sejalan dengan harapan Menag agar semakin banyak santri menjadi dokter, insinyur, pengusaha, ahli teknologi, pemimpin masyarakat, hingga pemimpin bangsa.

Menag menyebut Baitul Hikmah sebagai contoh lembaga pendidikan Islam yang mampu menjadi pusat pengembangan ilmu, penelitian, dan kolaborasi. Karena itu, ia mendorong pesantren mengambil inspirasi dari tradisi tersebut, tanpa meninggalkan pendidikan agama.

“Kalau perlu Baitul Hikmah akan bangkit kembali di lingkungan pondok pesantren di Indonesia,” ujar Menag dalam Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Hari Pahlawan 2026: Selasa 10 November, Kisah Surabaya dan Status Tema Kemensos